Menjalani ibadah puasa Ramadhan di luar negeri sering kali menimbulkan berbagai pertanyaan, terutama ketika berada di negara dengan mayoritas penduduk non-Muslim seperti Jepang. Perbedaan budaya, lingkungan, hingga kebiasaan sehari-hari kerap dibayangkan sebagai tantangan tersendiri. Namun bagi mahasiswa yang mengalaminya secara langsung, Ramadhan di perantauan justru menghadirkan pengalaman dan perspektif baru yang berkesan.

Hal ini dirasakan oleh Raihan Ahmad Yasin, mahasiswa Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Jepang Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) angkatan 2023, yang saat ini sedang menjalani program beasiswa pertukaran pelajar di Tohoku University, Sendai, Jepang. Menurut Raihan, menjalankan puasa di Jepang ternyata tidak jauh berbeda dengan di Indonesia. Untuk Ramadhan tahun ini, waktu imsak sekitar pukul 04.30 dan berbuka puasa sekitar pukul 17.30, meskipun durasi puasa dapat berubah tergantung musim.

Berada di lingkungan dengan mayoritas non-Muslim juga tidak menjadi hambatan berarti. Raihan menilai masyarakat Jepang dikenal sopan dan menghargai orang lain, sehingga suasana selama menjalankan ibadah puasa tetap terasa nyaman.

Selama di Jepang, Raihan juga bergabung dengan komunitas Perhimpunan Pelajar Indonesia di Sendai. Bersama komunitas tersebut, para mahasiswa kerap mengadakan kegiatan berbuka puasa bersama serta melaksanakan shalat tarawih berjamaah di ruang berkumpul yang tersedia di student hall.

Dalam hal makanan halal, Raihan dan teman-temannya biasanya membeli bahan makanan di supermarket Jepang seperti Gyomu Super yang menyediakan sejumlah produk halal. Selain itu, mereka juga dapat menemukan bahan masakan Asia di toko-toko Asia, atau menikmati hidangan di restoran yang menyediakan menu halal seperti Sekai Gohan.

Sebelum berangkat ke Jepang, Raihan sempat membayangkan bahwa menjalani puasa di luar negeri akan terasa sulit. Dulu saya berpikir, susah tidak ya puasa di luar negeri? Bukannya jamnya lebih lama dibanding di Indonesia? Terus buka puasanya tidak bisa pakai es campur,” tuturnya sambil mengenang kekhawatiran awalnya.

Namun setelah menjalaninya secara langsung, ia menyadari bahwa berpuasa di luar negeri tidak sesulit yang dibayangkan. Dukungan komunitas, akses makanan halal, serta kemampuan beradaptasi dengan lingkungan baru membuat Ramadhan tetap dapat dijalani dengan baik meskipun jauh dari tanah air.