Penulis : Dr. Fachmi Ibrahim, S.Sos., M.I.Kom., Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Al-Azhar Indonesia.
Ada satu angka yang mungkin terasa jauh dari kehidupan kita, yaitu Rp17.978. Itulah posisi rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Senin, 28 September 2026. Rupiah melemah 0,42 persen dari posisi sebelumnya Rp17.903 per dolar AS. JISDOR Bank Indonesia juga berada di Rp17.965 per dolar AS.
Bagi sebagian orang, angka itu mungkin hanya urusan pasar keuangan. Cukup dibaca sebentar di layar ponsel, kemudian dilupakan. Tetapi bagi pedagang, pengusaha, pekerja, dan terutama pelaku usaha kecil, pelemahan rupiah sebenarnya bisa berjalan lebih jauh dari layar komputer. Ia bisa masuk ke toko, dapur produksi, ongkos kirim, bahkan ke dalam keputusan sederhana, besok harga jual harus naik atau tidak?
Nah, di sinilah pertanyaan pentingnya ketika rupiah melemah, siapa yang sebenarnya membayar? Jawabannya tidak selalu pemerintah, bukan pula hanya perusahaan besar. Dalam banyak keadaan, sebagian bebannya perlahan berpindah kepada konsumen dan pelaku usaha.
Kita ambil contoh sederhana, seorang pengusaha kecil membeli bahan baku yang harganya dipengaruhi dolar. Ketika rupiah melemah, biaya mendapatkan bahan tersebut bisa ikut meningkat. Belum lagi biaya mesin, suku cadang, kemasan tertentu, perangkat digital, atau bahan pendukung yang memiliki komponen impor.
Masalahnya, pengusaha tidak bisa serta-merta menaikkan harga. Kalau harga dinaikkan, pelanggan bisa pergi, kalau harga dipertahankan, keuntungan tergerus, kalau biaya ditekan terlalu dalam, kualitas produk yang mungkin menjadi korban. Di situlah pelaku usaha sering berada di antara biaya yang naik dan konsumen yang daya belinya belum tentu ikut naik.
Pelemahan rupiah sendiri tidak berdiri sendirian. Tekanan kali ini berkaitan dengan berbagai faktor eksternal, antara lain penguatan dolar, kenaikan harga minyak dan ketidakpastian geopolitik. Artinya, pengusaha kecil di Depok, Bandung, Yogyakarta atau Makassar sebenarnya ikut berhadapan dengan sesuatu yang sumbernya bisa saja ribuan kilometer dari tempat mereka berjualan.
Di tengah situasi seperti itu, ada satu kemampuan yang sering luput dibicarakan, yaitu komunikasi kewirausahaan. Bagi pelaku usaha, komunikasi bukan sekadar bagaimana membuat promosi yang menarik atau berbicara kepada pelanggan. Komunikasi juga menjadi cara untuk membaca perubahan, membangun hubungan dengan pemasok, menjelaskan penyesuaian harga kepada konsumen, sekaligus meyakinkan pelanggan bahwa kenaikan harga bukan sekadar upaya mencari keuntungan lebih besar.
Seorang wirausaha yang mampu berkomunikasi dengan baik memiliki peluang lebih besar untuk menjaga kepercayaan ketika kondisi usaha sedang tidak mudah. Ia harus mampu mengatakan kepada pelanggan, misalnya, mengapa ukuran produk berubah, mengapa harga sedikit naik, atau mengapa ada pilihan produk dengan harga yang berbeda. Dalam keadaan ekonomi yang penuh tekanan, komunikasi menjadi bagian dari strategi bertahan.
Inilah menariknya dunia kewirausahaan, pengusaha sering dianggap hanya orang yang menjual barang dan mencari keuntungan. Padahal dalam situasi seperti ini, mereka juga menjadi peredam guncangan ekonomi. Mereka harus mencari pemasok alternatif, menghitung ulang biaya produksi, mengurangi pemborosan, mengubah ukuran kemasan, mencari pasar baru, memperbaiki cara promosi, sampai memanfaatkan teknologi agar biaya operasional lebih efisien.
Pengusaha yang bertahan bukan selalu yang modalnya paling besar, sering kali justru mereka yang paling cepat membaca perubahan. Tetapi kita juga jangan terlalu romantis. Jangan sampai setiap kali ekonomi mengalami tekanan, jawabannya selalu diberikan kepada pelaku UMKM harus kreatif, harus inovatif, harus adaptif. Lalu selesai.
Padahal kreativitas juga membutuhkan ruang, inovasi membutuhkan modal, adaptasi membutuhkan pengetahuan dan akses pasar. Karena itu, ketika rupiah mendekati Rp18.000, pertanyaannya jangan berhenti pada mengapa rupiah melemah? Pertanyaan berikutnya jauh lebih dekat dengan kehidupan kita, siapa yang menanggung akibatnya, dan seberapa besar kemampuan mereka untuk bertahan?
Bank Indonesia tentu memiliki instrumen untuk menjaga stabilitas nilai tukar, namun stabilitas ekonomi tidak hanya terjadi di pasar uang. Ia juga terjadi di warung kecil, bengkel, kedai kopi, usaha rumahan, toko daring dan ruang produksi para wirausaha. Sebab pada akhirnya angka kurs mungkin tercatat di layar, tetapi biaya perubahan kurs dibayar dengan uang yang nyata. Sering kali, yang membayarnya adalah mereka yang paling sedikit punya ruang untuk menaikkan harga.
Sumber : harianexpress.com