Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) menyelenggarakan seminar internasional bertajuk “Academic Success for Research with Visual Impairment” secara hybrid. Acara berlangsung pada Senin, 26 Januari 2026 di Auditorium UAI Lantai 3 dan melalui Zoom Livestream. Kegiatan ini menjadi ruang diskusi lintas negara untuk membahas penguatan akses serta kesetaraan dalam pendidikan dan penelitian bagi peneliti dengan disabilitas netra. Seminar terselenggara berkat kolaborasi antara UAI, University of Edinburgh, dan British Council yang telah berjalan sejak 2024.
Dihadiri oleh Tamu dari Dalam dan Luar Negeri
Seminar ini dihadiri oleh berbagai pejabat dan praktisi yang ahli dibidangnya, diantaranya Dr. Mohammad Fauzan Adziman, (Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi), Dr. Henri Togar Hasiholan Tambunan, (Kepala LLDIKTI Wilayah III), Dr. Rachmita Harahap (Komisioner Komisi Nasional Disabilitas), Ratri Nurinda Kusumawati (Subkoordinator Pelindungan Pekerja Migran Indonesia Selama Bekerja Kementerian Ketenagakerjaan RI), Tina Camelia Zonneveld (Pekerja Sosial Ahli Muda Direktorat Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Kementerian Sosial RI), Muhaimin Syamsuddin (Head of Education, British Council Indonesia), serta Prof. John Ravenscroft dan Elizabeth McCann (University of Edinburgh). Forum ini juga diikuti perwakilan dari berbagai perguruan tinggi di bawah LLDIKTI Wilayah III maupun seluruh Indonesia, serta sivitas akademika yang hadir luring maupun daring.
Rektor, Prof. Dr. Widodo Muktiyo, yang didampingi Wakil Rektor Prof. Taufik Kasturi, S.Psi., M.Si., Ph.D. (Wakil Rektor I Bidang Akademik), Dr. Ir. Achmad Syamsudin, MBA (Wakil Rektor II Bidang Sumber Daya), dan Dr. Yusup Hidayat, S.Ag., M.H. (Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni) hadir dalam seminar internasional. Tidak hanya itu, Dr. Damayanti Wardyaningrum, S.E., M.Si. (Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UAI), Dr. Nanang Haroni, S.Ag., M.Si. (Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi UAI), Cut Meutia Karolina, S.I.Kom., M.I.Kom., (Indonesian Lead Project), Gusmia Arianti, S.E., M.Si. (Indonesian Deputy), serta para dosen dan staf FISIP UAI turut meramaikan kegiatan.
Sambutan dan Keynote Speech
Prof. Dr. Widodo Muktiyo, Rektor Universitas Al-Azhar Indonesia, membuka acara dengan menyampaikan bahwa pengembangan riset inklusif merupakan tanggung jawab perguruan tinggi untuk menjamin kesetaraan akses bagi seluruh sivitas akademika, termasuk peneliti dengan disabilitas netra. Beliau juga mengapresiasi perolehan peringkat kedua tingkat nasional Unit Layanan Disabilitas (ULD) UAI dalam kategori penguatan ULD pada Desember 2025. “Kolaborasi UAI dengan University of Edinburgh yang didukung British Council telah membawa dampak nyata, salah satunya melalui penguatan kebijakan inklusivitas dan pembentukan Unit Layanan Disabilitas di kampus” tutur Rektor.
Muhaimin Syamsuddin (Head of Education, British Council Indonesia) pada sambutannya menekankan kolaborasi lintas sektor dan negara sebagai kunci mendorong pendidikan dan penelitian yang inklusif. Komisioner Komisi Nasional Disabilitas (KND) Indonesia, Dr. Rachmita Harahap turut menegaskan bahwa keberhasilan akademik peneliti disabilitas memerlukan fasilitas yang layak dan partisipasi yang bermakna, bukan sekadar afirmasi.
Pada Seminar Internasional ini, Dr. Henri Togar Hasiholan Tambunan (Kepala LLDIKTI Wilayah III) menyampaikan keynote speech bahwa perguruan tinggi perlu beradaptasi dengan prinsip internasional serta memperkuat akses pendidikan dan penelitian bagi penyandang disabilitas netra. Dr. Mohammad Fauzan Adziman (Dirjen Riset & Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi) menambahkan konsep “Inclusive Science: A Framework for Visually Impaired Researchers in Indonesia”, yang menitikberatkan pada dua pilar strategis, yaitu sumber daya manusia dan sumber daya alam, serta pemanfaatan AI, pedagogical R&D, dan teknologi imersif untuk mendukung riset yang aksesibel.
Diskusi Panel: Praktik dan Tantangan Riset Inklusif
Rangkaian seminar dilanjutkan dengan dua sesi diskusi panel. Sesi pertama menghadirkan Prof. John Ravenscroft (University of Edinburgh) dan Ratri Nurinda Kusumawati (Kementerian Ketenagakerjaan), dengan Cut Meutia Karolina (Indonesian Lead Project, UAI) sebagai moderator. Dalam sesi ini, para panelis memaparkan praktik dan hasil penelitian dalam mewujudkan pendidikan dan penelitian inklusif, baik dari perspektif internasional maupun program pemerintah Indonesia.
Sesi kedua menampilkan Elizabeth McCann (University of Edinburgh) dan Tina Camelia Zonneveld (Kementerian Sosial), yang dipandu oleh Fachmi Ibrahim, S.Sos., M.I.Kom. (Dosen Ilmu Komunikasi UAI). Panel ini menyoroti aspek implementasi, dukungan sosial, dan strategi praktis untuk memastikan kesetaraan akses pendidikan dan riset bagi penyandang disabilitas netra.
Diskusi kedua sesi tersebut menjadi sarana berbagi pengalaman, praktik baik, dan referensi bagi pengembangan kebijakan serta lingkungan akademik inklusif di Indonesia.
Melalui seminar internasional bersama University of Edinburgh, Universitas Al-Azhar Indonesia menegaskan komitmennya untuk membangun kolaborasi global serta mendorong pengembangan riset yang inklusif dan berorientasi pada kesetaraan akses bagi seluruh sivitas akademika.
Supported by funding from the British Council Going Global Partnerships programme. Going Global Partnerships supports universities, colleges and wider education stakeholders around the world to work together towards stronger, equitable, inclusive, more internationally connected higher education, science and TVET. Through international partnerships, system collaborations and opportunities to connect and share, we enable stronger transnational education, more collaborative research, higher quality delivery enhanced learner outcomes and stronger, internationalised, equitable and inclusive systems and institutions. This leads to stronger higher education, research and TVET systems around the world that can support fairer social and economic growth and address national and global challenges all backed up by mutually beneficial international relationships.








