Universitas Al-Azhar Indonesia menghadiri acara Tabligh Akbar dalam rangka Milad ke-74 Yayasan Pesantren Islam (YPI) Al Azhar  pada Selasa, 7 April 2026 setelah Salat Zuhur di Masjid Agung Al Azhar. Kegiatan ini menghadirkan Ustadz Das’ad Latif, S.Sos., S.Ag., M.Si., Ph.D., sebagai penceramah dengan tema “Membangun Manusia Beradab dan Berkemajuan”.

Jajaran pimpinan Yayasan Pesantren Islam (YPI) Al Azhar yang hadir dalam kegiatan ini antara lain Sekretaris Pembina, Muhammad Suhadi, S.Kom., Ketua Pengawas, Dr. Ir. Ahmad Husin Lubis, M.Sc., Anggota Pengawas, Dr. Shobahussurur, M.A., Ketua Umum Dr. Fuad Bawazier, M.A., Ketua Bidang Pendidikan Dasar dan Menengah, Drs. Nuri Muhammadi, Ketua Bidang Dikti, Diklat, dan Pengembangan Pendidikan, Prof. Dr. Suparji, M.H., Ketua Bidang Dakwah dan Sosial, Dr. Zahrudin Sulthoni, M.A., Sekretaris Umum, Drs. Budiyono, M.Pd., Sekretaris, Drs. Ono Ruhiana, M.Pd., Bendahara Umum Dr. Ir. Suhaji Lestiadi, M.E., beserta seluruh jajaran pejabat YPI Al Azhar yang hadir.

Perwakilan UAI yang hadir yaitu Rektor UAI, Prof. Dr. Widodo Muktiyo, Wakil Rektor I Bidang Akademik, Prof. Taufik Kasturi, S.Psi., M.Si., Ph.D., Wakil Rektor II Bidang Sumber Daya, Dr. Ir. Achmad Syamsudin, MBA., Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Dr. Yusup Hidayat, S.Ag., M.H., serta Sivitas Akademika UAI.

Acara dibuka dengan sambutan Ketua Bidang Dakwah dan Sosial, Dr. Zahrudin Sulthoni, M.A. Beliau menyampaikan bahwa dalam Al-Qur’an terdapat istilah ahsanul taqwim, yang sering dipahami sebagai kesempurnaan secara fisik. Namun, sebenarnya istilah ini harus dipenuhi melalui empat syarat, yaitu berilmu, cerdas, cakap berkomunikasi, dan bijaksana.

Membangun Manusia Beradab dan Berkemajuan

Mengawali Tabligh Akbar, Das’ad Latif menjelaskan bahwa konsep Jahiliyah tidak hanya berkaitan dengan masa lalu, tetapi juga dapat muncul dalam kehidupan manusia saat ini, terutama melalui sikap sombong. Kesombongan tersebut ditandai dengan meremehkan orang lain dan menolak kebenaran, yang dapat dipicu oleh jabatan, ilmu, kekayaan, maupun popularitas.

Das’ad Latif menyoroti kondisi generasi muda yang cenderung unggul secara intelektual, namun belum sepenuhnya diimbangi dengan kekuatan adab. Hal ini tidak terlepas dari semakin berkurangnya penanaman nilai moral serta pemahaman sejarah perjuangan bangsa dalam proses pendidikan.

Menurutnya, kecerdasan tanpa akhlak tidak memiliki makna. Teknologi seperti kecerdasan buatan memang mampu mengolah berbagai informasi, tetapi tidak memiliki kemampuan untuk membedakan antara yang baik dan buruk. Dalam konteks ini, agama memiliki peran penting dalam membentuk manusia yang utuh.

Penceramah asal Sulawesi Selatan tersebut menjelaskan bahwa keseimbangan antara iman dan ilmu menjadi landasan utama dalam meningkatkan derajat manusia. “Ilmu tanpa iman dapat menyesatkan, sementara iman tanpa ilmu tidak akan berkembang secara optimal,” ujarnya.

“Puncak dari peradaban itu adalah akhlak,” ujar Das’ad Latif. Dalam upaya membangun peradaban yang beradab dan berkemajuan, pemateri menyampaikan tiga prinsip utama, yaitu memperkuat ilmu, menjaga tutur kata, dan mempererat silaturahmi. Tutur kata yang baik mencerminkan kualitas peradaban, sehingga kritik perlu disampaikan secara santun dan konstruktif.

Menutup Tabligh Akbar, pemateri menegaskan bahwa akhlak merupakan hasil akhir dari proses pendidikan. Peran pendidik tidak hanya sebatas mentransfer ilmu, tetapi juga membentuk karakter, sehingga proses mendidik menjadi investasi jangka panjang yang terus mengalir pahalanya.