Saat Ramadhan tiba, takjil selalu punya tempat istimewa. Bukan hanya untuk berbuka, tetapi juga sebagai bagian dari tradisi yang membuat sore terasa berbeda. Ramainya pemburu takjil juga menghadirkan peluang usaha musiman yang menarik. Dalam momen singkat ini, pelaku usaha dituntut cermat membaca selera dan mengatur strategi agar tetap untung.
Di tengah dinamika tersebut, usaha takjil sering kali dipersepsikan sebagai aktivitas musiman yang berjalan apa adanya. Padahal, ritme Ramadhan justru menuntut ketepatan pengelolaan yang lebih disiplin. Waktu penjualan terbatas, perilaku konsumen cenderung impulsif, sementara persaingan produk serupa meningkat tajam dalam periode singkat.
Dosen Program Studi Manajemen Universitas Al-Azhar Indonesia, Asep Maksum, S.E., Ak., M.B.A., melihat fenomena ini sebagai contoh nyata bagaimana prinsip dasar bisnis tetap relevan, bahkan dalam skala usaha yang tampak sederhana. Menurutnya, keberhasilan usaha takjil bertumpu pada fondasi yang tidak boleh diabaikan, yaitu kualitas, efisiensi, nilai, dan pelayanan.
Kualitas menjadi titik awal yang menentukan keberlanjutan minat konsumen. Produk tidak hanya dituntut enak, tetapi juga segar, higienis, dan konsisten. Perubahan rasa yang tidak stabil, meski kecil, dapat memengaruhi kepercayaan pelanggan. Pada saat yang sama, efisiensi berperan penting dalam mengendalikan produksi agar tidak berujung pada stok berlebih dan pemborosan bahan.
Ramadhan juga memperlihatkan karakter konsumen yang berbeda. Keputusan membeli sering kali terjadi spontan, dipicu oleh tampilan visual yang menarik. Dalam konteks ini, visual selling menjadi strategi yang tak terpisahkan dari usaha takjil. Penataan produk, kebersihan display, kombinasi warna, hingga label harga yang jelas mampu menciptakan daya tarik yang memengaruhi keputusan beli dalam hitungan detik. Sebagaimana disampaikan Asep Maksum, “Di bulan puasa, mata itu membeli sebelum perut.”
Fenomena tersebut menjelaskan mengapa lokasi strategis saja belum cukup. Produk yang serupa bisa ditemukan di banyak titik penjualan, tetapi presentasi yang lebih meyakinkan mampu menciptakan diferensiasi. Konsumen Ramadhan kerap membeli bukan semata karena kebutuhan terencana, melainkan karena ketertarikan sesaat yang dibangun secara visual.
Di era digital, etalase usaha pun meluas melampaui meja jualan. WhatsApp, Instagram, dan TikTok menjadi perpanjangan strategi pemasaran. Namun pemanfaatannya tidak sekadar soal hadir di media sosial, melainkan memahami momentum unggahan. Konten promosi yang muncul pada waktu yang relevan, terutama menjelang berbuka, memiliki peluang interaksi yang jauh lebih tinggi.
Meski terlihat sederhana, banyak usaha takjil justru tersandung pada aspek paling mendasar, yaitu pengelolaan keuangan. Barang yang habis terjual belum tentu menghasilkan margin sehat. Tanpa perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP), harga jual sering kali ditetapkan secara kira-kira, berisiko menggerus keuntungan tanpa disadari. “Jangan menentukan harga kira-kira. Hitung biaya per unit secara akurat,” tegasnya.
Selain keuangan, optimisme berlebihan juga menjadi jebakan umum pelaku usaha pemula. Produksi terlalu banyak, menawarkan terlalu banyak varian, atau kurang adaptif terhadap kondisi eksternal seperti cuaca dapat berujung pada pemborosan. Dalam usaha dengan waktu jualan yang sempit seperti takjil Ramadhan, kecermatan membaca permintaan pasar menjadi kunci.
Menariknya, di tengah tren makanan viral yang terus berganti, produk-produk klasik tetap menunjukkan daya tahan pasar yang kuat. Kolak, es buah, dan gorengan memperlihatkan bahwa preferensi konsumen Ramadhan sering kali memadukan rasa nostalgia dengan ketertarikan pada hal baru. Membaca tren dapat dilakukan melalui observasi sederhana, baik dari media sosial, pasar, maupun uji coba produk sebelum Ramadhan.
Pada akhirnya, usaha takjil bukan sekadar tentang memanfaatkan lonjakan permintaan musiman, melainkan tentang bagaimana momentum singkat tersebut dikelola melalui keputusan yang terukur. Bagi mahasiswa, Ramadhan menjadi ruang praktik kewirausahaan yang relevan, selama dijalankan dengan pendekatan yang realistis.
Sebagai penutup, Asep Maksum mengingatkan bahwa skala usaha bukan penentu utama keberhasilan. “Mahasiswa tetap bisa memanfaatkan Ramadhan untuk belajar usaha. Kuncinya perencanaan sederhana, pencatatan rapi, dan konsistensi kualitas,” ujarnya.
Ramadhan pun kembali menunjukkan wajahnya, bukan hanya sebagai bulan spiritualitas, tetapi juga ruang belajar nyata tentang disiplin, strategi, dan ketepatan membaca peluang.