Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) menyelenggarakan Training for Journal Management bertajuk “Academic Success for Research with Visual Impairment” pada Kamis, 29 Januari 2026 di Ruang 317 C UAI. Pelatihan ini dilaksanakan secara hybrid dan bertujuan mendorong pengelolaan jurnal ilmiah yang lebih inklusif dan aksesibel bagi penyandang disabilitas netra.

Pelatihan ini merupakan bagian dari kolaborasi UAI dan University of Edinburgh yang didukung oleh British Council melalui skema Disability Inclusion Partnership, dengan fokus pada penguatan praktik inklusivitas dalam pengelolaan jurnal ilmiah, khususnya aksesibilitas bagi penyandang disabilitas netra.

Sambutan Wakil Rektor III UAI

Pelatihan ini dibuka dengan sambutan Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Dr. Yusup Hidayat, S.Ag., M.H. Beliau menegaskan bahwa kegiatan ini mencerminkan komitmen UAI bersama University of Edinburgh dalam mendorong penguatan akses riset dan publikasi ilmiah yang inklusif, sekaligus meningkatkan kesadaran serta kapasitas pengelola jurnal dalam menerapkan praktik aksesibilitas di lingkungan jurnal ilmiah Indonesia. “Sistem akademik yang inklusif bukan hanya soal akses, tetapi juga tentang martabat, keadilan, dan partisipasi yang bermakna dalam produksi ilmu pengetahuan.”tutup beliau.

Dihadiri Peserta dari Berbagai Lembaga

Peserta yang hadir merupakan pengelola jurnal dari berbagai bidang keilmuan yang bersinggungan langsung dalam pengelolaan situs dan editorial pelatihan berasal dari internal dan eksternal UAI. Peserta yang hadir secara on-site sebanyak 25 peserta, sedangkan 50 peserta lainnya hadir melalui Zoom.

Dari internal UAI, kegiatan ini diikuti oleh Dr. Nanang Haroni, S.Ag., M.Si. selaku Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi, Safira Hasna, M.Si. selaku Pengelola Jurnal Commline, Prof. Dr. Dewi Elfidasari, S.S., M.Si. selaku Pengelola Jurnal UAI Seri Saintek, Zakaria Lantang Sukirno, S.IP., M.Si., sebagai dosen tetap Program Studi Ilmu Komunikasi, serta Selma Intan, S.T. selaku pengelola jurnal di bawah Lembaga Penelitian, Inovasi dan Pemberdayaan Masyarakat (LPIPM).

Peserta eksternal meliputi perwakilan dari BRIN, Institut Pariwisata Trisakti, Universitas Multimedia Nusantara, Kementerian Pertanian, dan Kementerian Pariwisata. Pelaksanaan secara hybrid memungkinkan keterlibatan peserta yang lebih luas dalam diskusi dan pertukaran praktik pengelolaan jurnal ilmiah yang inklusif.

Pelatihan Bersama oleh Akademisi University of Edinburgh

Kegiatan ini menghadirkan dua pemateri dari University of Edinburgh, yakni Prof. John Ravenscroft dan Elizabeth McCann. Para pemateri membahas pemahaman dasar mengenai disabilitas netra, ragam kondisi visual impairment, serta implikasinya terhadap aktivitas akademik, khususnya dalam proses membaca, menulis, dan mengakses sumber ilmiah.

Tidak hanya itu, kedua pemateri membahas lebih dalam seputar tantangan yang dihadapi peneliti penyandang disabilitas netra dalam kegiatan riset dan publikasi ilmiah, termasuk keterbatasan akses terhadap dokumen digital dan sistem jurnal. Materi juga mencakup praktik serta contoh penerapan aksesibilitas dalam pengelolaan jurnal elektronik, seperti penyesuaian pada platform Open Journal Systems (OJS), penggunaan format dokumen yang ramah pembaca layar (screen reader), dan prinsip desain situs jurnal yang lebih inklusif.

Melalui pelatihan ini, peserta memperoleh wawasan praktis mengenai prinsip inklusivitas, peningkatan aksesibilitas konten digital, serta pengembangan desain jurnal elektronik yang ramah bagi seluruh pengguna. Pelatihan ini menjadi langkah strategis yang direkomendasikan dalam pengembangan dan publikasi jurnal di Indonesia.

Supported by funding from the British Council Going Global Partnerships programme. Going Global Partnerships supports universities, colleges and wider education stakeholders around the world to work together towards stronger, equitable, inclusive, more internationally connected higher education, science and TVET. Through international partnerships, system collaborations and opportunities to connect and share, we enable stronger transnational education, more collaborative research, higher quality delivery enhanced learner outcomes and stronger, internationalised, equitable and inclusive systems and institutions. This leads to stronger higher education, research and TVET systems around the world that can support fairer social and economic growth and address national and global challenges all backed up by mutually beneficial international relationships.