Muhammad Rifai, mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) Angkatan 2023, menyampaikan kuliah tujuh menit (kultum) Zuhur bertema “Relevansi Pemikiran “Falsafah Hidup” Buya Hamka dalam Kerangka Refleksi Moral dan Pembentukan Karakter” pada Rabu, 14 Januari 2025. Kultum kali ini mengajak jamaah untuk kembali menelaah pemikiran Buya Hamka sebagai panduan moral dalam menghadapi dinamika kehidupan modern.

Rifai membuka Kultum Zuhur dengan menyoroti sosok Buya Hamka sebagai ulama, intelektual, dan pemikir Islam reformis yang menempatkan Islam tidak hanya sebagai ajaran spiritual, tetapi juga sebagai kekuatan sosial yang mampu membentuk karakter individu dan peradaban bangsa. Menurutnya, pemikiran Hamka masih sangat relevan dalam konteks kehidupan masyarakat saat ini.

Ia menjelaskan bahwa dalam buku Falsafah Hidup, Buya Hamka memandang hidup bukan sekadar rangkaian aktivitas duniawi seperti bekerja dan mengejar kedudukan, melainkan perjalanan spiritual yang berorientasi pada pengabdian kepada Allah dan pembentukan akhlak mulia. Rifai menegaskan bahwa manusia akan kehilangan arah apabila hidup hanya dikendalikan oleh hawa nafsu dan ambisi duniawi tanpa pegangan iman.

Dalam Kultum Zuhur tersebut, Rifai juga menekankan pentingnya keseimbangan antara akal dan iman. Akal tanpa iman dapat melahirkan kesombongan, sementara iman tanpa akal berpotensi menimbulkan sikap sempit dan fanatisme. Integrasi keduanya menjadi kunci dalam membentuk pribadi muslim yang utuh, cerdas, dan berkarakter.

Rifai turut mengulas pandangan Buya Hamka mengenai makna kebahagiaan yang tidak diukur dari harta atau jabatan, melainkan dari ketenangan jiwa yang lahir dari iman, kesabaran, dan rasa syukur. Ujian dan penderitaan pun dipandang sebagai sarana pendidikan jiwa agar manusia menjadi lebih matang dan kuat.

“Buya Hamka mengajarkan bahwa hidup yang bermakna adalah hidup yang dipandu oleh iman, diterangi oleh akal, dan diwujudkan dalam akhlak,” pungkasnya sambil mengutip pemikiran Buya Hamka. Melalui refleksi tersebut, jamaah diajak menjadikan iman, akal, dan akhlak sebagai pedoman hidup agar mampu memberi manfaat bagi diri sendiri maupun masyarakat.