Akses terhadap dunia riset bagi peneliti dengan disabilitas netra masih penuh tantangan. Mulai dari keterbatasan sumber belajar, dukungan teknologi, hingga lingkungan akademik yang belum sepenuhnya inklusif, banyak hambatan yang harus dihadapi. Isu inilah yang menjadi fokus seminar internasional “Academic Success for Research with Visual Impairment”,yang diselenggarakan oleh Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) bersama dengan University of Edinburgh dan British Council pada Senin, 26 Januari 2026. Kegiatan ini menghadirkan pakar dari dalam dan luar negeri, yang menjadikannya sebagai ruang diskusi lintas negara untuk membahas strategi membangun ekosistem pendidikan dan riset yang inklusif dan aksesibel.bagi disabilitas netra.
Rachmita Harahap, Komisioner Komisi Nasional Disabilitas Indonesia sekaligus penyandang disabilitas daksa, menegaskan bahwa afirmasi saja tidak cukup. “Pendidikan dan penelitian yang inklusif hanya akan berhasil jika ada aksi nyata. Pemerintah, sektor swasta, dan lembaga pendidikan harus menyediakan fasilitas yang aksesibel dan menciptakan kesempatan partisipasi yang bermakna bagi penyandang disabilitas,” katanya.
Seminar dilanjutkan dengan dua sesi diskusi panel. Sesi pertama menghadirkan Prof. John Ravenscroft dari University of Edinburgh dan Ratri Nurinda Kusumawati dari Kementerian Ketenagakerjaan RI, yang menyoroti pentingnya kebijakan yang aksesibel dan dukungan institusional bagi peneliti disabilitas netra. Sesi ini dimoderatori oleh Cut Meutia Karolina dari UAI.
Sesi kedua membawa perspektif implementasi dan dukungan sosial, dengan Elizabeth McCann (University of Edinburgh) dan Tina Camelia Zonneveld (Kementerian Sosial RI) berbagi praktik yang memastikan kesetaraan akses pendidikan dan penelitian. Fachmi Ibrahim, dosen Ilmu Komunikasi UAI, memandu jalannya diskusi. Dari kedua sesi ini, terlihat jelas bagaimana teknologi adaptif, layanan pendukung, dan kolaborasi lintas lembaga menjadi kunci kesuksesan riset inklusif.
Sebagai tuan rumah, UAI tidak hanya menjadi penyelenggara seminar, tetapi juga menjadi contoh nyata langkah menuju pendidikan dan riset yang inklusif. Sejak 2024, kolaborasi antara UAI dengan University of Edinburgh dan British Council telah menghadirkan berbagai program penelitian yang adaptif. Pembentukan Unit Layanan Disabilitas (ULD) UAI) menjadi wujud komitmen ini. Pencapaian peringkat kedua nasional kategori penguatan ULD pada Desember 2025 menunjukkan hasil nyata dari kerja keras sivitas akademika UAI dałam mewujudkan lingkungan yang ramah bagi semua.
Dalam sambutannya, Rektor UAI, Prof. Dr. Widodo Muktiyo, menekankan bahwa seminar ini bertujuan meningkatkan kesadaran tentang pentingnya inklusivitas di lingkungan pendidikan tinggi dan dunia penelitian. Beliau menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar dalam membangun ekosistem akademik yang inklusif. Beliau berharap kolaborasi dengan lembaga internasional seperti ini dapat terus berlanjut di tahun-tahun mendatang.
Seminar internasional ini menegaskan bahwa isu disabilitas netra menjadi bagian tak terpisahkan dari pendidikan tinggi dan penelitian. Keberhasilan akademik peneliti disabilitas netra tidak hanya bergantung pada kemampuan individu, tetapi juga pada akses dan dukungan institusi. UAI terus mendorong pengembangan riset yang inklusif dan ramah disabilitas, memberikan inspirasi bagi institusi lain untuk menciptakan lingkungan akademik yang adil dan terbuka bagi semua.
Supported by funding from the British Council Going Global Partnerships programme. Going Global Partnerships supports universities, colleges and wider education stakeholders around the world to work together towards stronger, equitable, inclusive, more internationally connected higher education, science and TVET. Through international partnerships, system collaborations and opportunities to connect and share, we enable stronger transnational education, more collaborative research, higher quality delivery enhanced learner outcomes and stronger, internationalised, equitable and inclusive systems and institutions. This leads to stronger higher education, research and TVET systems around the world that can support fairer social and economic growth and address national and global challenges all backed up by mutually beneficial international relationships.