KOMPAS.com – Ikan sapu-sapu kerap dipandang sebelah mata karena hidup di perairan tercemar dan dianggap sebagai ikan pengganggu. Namun, penelitian belum lama ini menunjukkan bahwa ikan air tawar ini berpotensi menjadi sumber pangan bergizi tinggi jika diolah dengan tepat.
Penelitian berjudul “Kandungan Nutrisi Abon Ikan Sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) Asal Sungai Ciliwung, Indonesia” mengungkapkan bahwa kandungan protein abon ikan sapu-sapu berada di atas standar mutu nasional (SNI).
Studi ini dilakukan oleh Haninah, Handhini Dwi Putri, Dewi Elfidasari, dan Irawan Sugoro dari Program Studi Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Al Azhar Indonesia, serta Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR), Badan Teknologi Nuklir Nasional (BATAN). Hasil penelitian tersebut dipublikasikan dalam Jurnal Pengolahan Pangan Volume 7 Nomor 1 halaman 14–19 edisi Juni 2022.
Sampel diambil dari Sungai Ciliwung
Dalam penelitian ini, sampel ikan sapu-sapu diperoleh dari kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung, tepatnya di Jalan Inspeksi Ciliwung, Letjen MT Haryono, Gg Ciliwung, Cawang, Jakarta. Ikan sapu-sapu dipilih karena populasinya melimpah di perairan tawar Indonesia, meskipun spesies ini sejatinya berasal dari Amerika Selatan dan bersifat invasif.
Peneliti mengolah daging ikan sapu-sapu menjadi abon melalui beberapa tahap. Daging ikan seberat 1 kilogram difillet, dicuci bersih, lalu diberi perasan jeruk nipis dan direbus selama sekitar 20 menit hingga matang. Setelah itu, daging disuwir halus dan dimasak bersama bumbu halus berupa bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, dan lengkuas. Santan kelapa, daun salam, dan daun jeruk ditambahkan, kemudian adonan dimasak sambil diaduk selama kurang lebih dua jam hingga berubah warna menjadi kecokelatan dan bertekstur kering khas abon.
Kandungan protein dianalisis secara ilmiah
Kadar protein abon dianalisis menggunakan metode Kjeldahl, metode standar laboratorium untuk menentukan kandungan nitrogen yang kemudian dikonversi menjadi kadar protein. Hasil analisis menunjukkan, kandungan protein abon ikan sapu-sapu mencapai 39,68 persen.
Angka ini berada di atas SNI 7690.1:2013 yang mensyaratkan kadar protein minimal 30 persen untuk produk abon. Meski lebih rendah dibandingkan kandungan protein daging ikan sapu-sapu segar yang dilaporkan dalam penelitian sebelumnya sebesar 50,05 persen, kadar protein abon tetap dinilai tinggi dan memenuhi standar mutu pangan.
Kadar air menurun, protein meningkat
Peneliti menjelaskan, tingginya persentase protein pada abon disebabkan oleh penurunan kadar air selama proses pengolahan. Semakin rendah kadar air suatu bahan pangan, semakin tinggi persentase protein yang terkandung di dalamnya. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya yang menyebutkan bahwa pengurangan air pada bahan pangan akan meningkatkan konsentrasi protein dan lemak.
Selain bernilai gizi tinggi, protein ikan juga dikenal memiliki sifat fungsional yang baik, baik dari sisi nutrisi maupun karakteristik fisiko-kimia, sehingga berpotensi dikembangkan sebagai produk pangan alternatif. Hasil penelitian ini membuka peluang pemanfaatan ikan sapu-sapu sebagai bahan pangan bernilai tambah, sekaligus menjadi solusi pengendalian populasi ikan invasif di perairan Indonesia.
Bahaya konsumsi ikan sapu-sapu menurut dokter
Isu mengenai masifnya populasi ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung awalnya ramai dibicarakan setelah muncul beberapa unggahan di media sosial. Banyak warganet mempertanyakan apakah ikan tersebut aman untuk dikonsumsi, mengingat keberadaannya semakin mendominasi sungai.
Ketika dikonfirmasi terkait fenomena ini, Peneliti Senior BRIN dari Organisasi Riset Energi dan Manufaktur (OREM), Dyah Marganingrum, menyebut ledakan populasi ikan sapu-sapu sebagai tanda bahwa Sungai Ciliwung semakin tercemar.
“Keberadaan ikan sapu-sapu bisa digunakan sebagai bio-indikator pencemaran. Dominasi ikan ini menandakan telah terjadi gangguan keseimbangan ekosistem dan penurunan keanekaragaman ikan lokal,” kata Dyah kepada Kompas.com, Kamis (15/1/2026).
Di sisi lain, pakar penyakit dalam Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. H. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP, menegaskan bahwa bahaya utama ikan sapu-sapu sebenarnya bukan terletak pada jenis ikannya, melainkan pada lingkungan tempat ikan tersebut hidup.
“Pertama tentu berbahaya jika ikan itu tercemar dengan berbagai macam bakteri, kemudian juga kuman, dan juga biasanya logam, logam berat yang ada pada ikan tersebut,” ujar Ari saat dihubungi Kompas.com, Jumat (23/1/3026).
Ia menjelaskan, salah satu persoalan terbesar adalah kandungan logam berat yang dapat menumpuk pada tubuh ikan. Bahkan, proses memasak tidak serta-merta menghilangkan zat berbahaya tersebut.
“Di satu sisi kadar logam berat pun juga tidak bisa hilang dengan proses pemasakan,” kata dia.
Ari menambahkan, dampak konsumsi ikan yang tercemar dapat muncul dalam dua fase. Dalam jangka pendek, gejalanya bisa langsung dirasakan tubuh setelah mengonsumsi ikan tersebut.
“Pada jangka pendek tentu pasien akan muntah-muntah setelah mengonsumsi ikan yang sudah tercemar tersebut,” ujar Ari.
Sementara dalam jangka panjang, paparan zat berbahaya seperti logam berat dapat menyebabkan gangguan kesehatan yang lebih serius.
“Dalam jangka panjang tentu bisa menyebabkan kerusakan ginjal maupun liver pada pasien tersebut,” kata Ari.
Menurut Ari, logam berat bersifat akumulatif, artinya dapat terus menumpuk di tubuh ikan yang hidup di lingkungan tercemar. Karena itu, meskipun dampaknya tidak selalu langsung terasa, risiko kesehatan akan meningkat jika seseorang sering mengonsumsi ikan dari perairan yang terkontaminasi.
Sumber: Kompas.com