Memasuki fase akhir bulan suci Ramadhan, umat Muslim dihadapkan pada periode yang paling istimewa, yakni sepuluh malam terakhir atau ashrul awakhir. Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI), Dr. Tata Septayuda Purnama, S.S., M.S.I., menjelaskan bahwa periode yang dimulai sejak malam ke-21 hingga akhir Ramadhan ini menjadi momentum penting untuk meningkatkan kualitas ibadah secara maksimal.
Dr. Tata Septayuda menekankan bahwa keistimewaan sepuluh malam terakhir tidak hanya terletak pada satu malam tertentu, melainkan pada keseluruhan rangkaian ibadah yang dilakukan selama periode tersebut. Hal ini berkaitan dengan hadirnya Lailatul Qadar, malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. “Fokus utama dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan bukan sekadar menentukan malam tertentu, tetapi memaksimalkan ibadah selama sepuluh malam tersebut sebagai bentuk kesungguhan dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT” ujarnya.
Untuk menghidupkan malam-malam tersebut, umat Islam dianjurkan memperbanyak berbagai amalan ibadah. Salah satu yang utama adalah qiyamul lail atau salat malam, baik tarawih maupun tahajud, yang menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah sekaligus memohon ampunan. Selain itu, membaca Al-Qur’an, berdzikir, berdoa, hingga melaksanakan i’tikaf di masjid juga menjadi amalan yang sangat dianjurkan, sejalan dengan praktik yang dicontohkan Rasulullah SAW.
Di tengah meningkatnya aktivitas sosial menjelang Idulfitri, seperti mudik, buka puasa bersama, hingga persiapan kebutuhan keluarga, beliau mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara urusan duniawi dan ibadah. Menurut beliau, aktivitas tersebut tetap dapat dilakukan selama tidak mengurangi esensi Ramadhan. “Waktu itu selalu ada, tentu bagaimana kita cara mengaturnya,” ungkap Kaprodi PAI UAI, yang menegaskan bahwa pengelolaan waktu menjadi kunci agar ibadah tetap terjaga.
Fenomena di masyarakat menunjukkan bahwa meningkatnya aktivitas sosial menjelang Idulfitri kerap berpotensi membuat sebagian orang mengabaikan ibadah wajib. Kondisi ini menjadi pengingat penting agar momentum Ramadhan tidak kehilangan maknanya. Dalam situasi tersebut, menjaga niat serta menempatkan ibadah sebagai prioritas utama di tengah berbagai kesibukan menjadi hal yang perlu terus diupayakan.
Tidak hanya bernilai ibadah, sepuluh malam terakhir Ramadhan juga mengandung berbagai hikmah yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Momentum ini melatih kedisiplinan, kesabaran, dan keistiqamahan dalam beribadah, sekaligus mendorong umat Islam untuk melakukan introspeksi diri. Selain itu, anjuran untuk memperbanyak sedekah turut menumbuhkan kepedulian sosial, sehingga Ramadhan tidak hanya berdampak secara spiritual, tetapi juga sosial.
Dengan demikian, sepuluh malam terakhir Ramadhan menjadi puncak perjalanan spiritual yang seharusnya dimanfaatkan secara optimal. Tidak hanya sebagai ajang meningkatkan ibadah, tetapi juga sebagai sarana membentuk karakter yang lebih baik dalam kehidupan sehari-hari.