Dekan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Al-Azhar Indonesia (FST UAI), Prof. Dr. Dewi Elfidasari, S.Si., M.Si., bersama penggiat lingkungan dan konten kreator, Arief Kamarudin, menjadi narasumber dalam webinar bedah buku bertajuk “Dari Sungai ke Literasi: Membangun Kesadaran Lingkungan Melalui Fenomena Ikan Sapu-Sapu”. Webinar ini diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Timur bersama Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) Provinsi DKI Jakarta pada Kamis, 7 Mei 2026 secara daring melalui Zoom Meeting.

Webinar tersebut diikuti oleh jajaran pemerintah daerah, akademisi, komunitas lingkungan, pelajar, hingga masyarakat umum. Tujuan pelaksanaan webinar ini sebagai bagian dari upaya Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Timur dan Dinas KPKP Provinsi DKI Jakarta untuk membangun kesadaran kolektif terhadap kondisi ekosistem sungai di Jakarta.

Ikan Sapu-Sapu Jadi Indikator Kerusakan Ekosistem

Prof. Dr. Dewi Elfidasari, S.Si., M.Si., selaku narasumber menjelaskan hasil riset mengenai fenomena ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung yang telah dilakukan sejak tahun 2015. Beliau memaparkan bahwa ikan sapu-sapu merupakan spesies invasif asal Sungai Amazon, Amerika Selatan, yang mampu bertahan di perairan tercemar dan kini mendominasi ekosistem Sungai Ciliwung.

Melalui penelitian yang dilakukan bersama tim, Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UAI menemukan adanya kandungan logam berat seperti timbal (Pb), kadmium (Cd), dan merkuri (Hg) pada daging hingga organ ikan sapu-sapu akibat pencemaran limbah di sungai. Temuan tersebut menunjukkan bahwa ikan sapu-sapu dapat menjadi indikator kondisi lingkungan perairan yang tercemar. “Yang terjadi bukan sekadar sungai yang kotor saja, tetapi adanya degradasi ekosistem yang terstruktur dan sistemik sehingga menurunkan kemampuan Sungai Ciliwung secara alami,” ujar Prof. Dewi.

Dorong Normalisasi dan Pemulihan Sungai Ciliwung

Menurut Prof. Dewi, upaya penanganan tidak hanya berhenti pada pengendalian populasi ikan sapu-sapu, tetapi juga perlu dilanjutkan dengan normalisasi dan pemulihan ekosistem Sungai Ciliwung secara menyeluruh. Beliau menilai persoalan lingkungan sungai perlu ditangani melalui kolaborasi antara akademisi, pemerintah, komunitas lingkungan, media, hingga masyarakat.

Selain membahas hasil penelitian, Dekan FST UAI turut menyoroti pentingnya literasi lingkungan agar hasil riset akademik dapat dipahami masyarakat luas dan mendorong lahirnya aksi nyata dalam menjaga lingkungan. Melalui webinar ini, beliau berharap kesadaran masyarakat terhadap kondisi Sungai Ciliwung semakin meningkat sehingga upaya pemulihan ekosistem dapat dilakukan secara berkelanjutan.

Konten Edukasi Arief Kamarudin Terinspirasi dari Riset UAI

Kegiatan webinar turut menghadirkan penggiat lingkungan dan konten kreator Arief Kamarudin yang aktif mengedukasi masyarakat mengenai kondisi Sungai Ciliwung melalui media sosial. Ia mengaku bahwa konten edukasi mengenai ikan sapu-sapu yang dibuatnya selama ini banyak bersumber dari hasil penelitian dan buku karya Prof. Dr. Dewi Elfidasari, S.Si., M.Si. “Kalau tidak karena ilmu Bu Dewi, mungkin konten ikan sapu-sapu tidak akan ada sampai sekarang,” ungkapnya. Tidak hanya itu, Arief juga aktif berdiskusi dan berkoordinasi dengan Prof. Dewi Elfidasari terkait penanganan ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung.

Arief Kamarudin bercerita bahwa kepeduliannya terhadap isu lingkungan muncul dari rasa memiliki terhadap Sungai Ciliwung sebagai bagian dari lingkungan tempat dirinya tumbuh sejak kecil. Melalui konten digital tersebut, ia berupaya mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk lebih peduli terhadap kondisi ekosistem sungai dan lingkungan sekitar.

Webinar yang disampaikan oleh Prof. Dr. Dewi Elfidasari, S.Si., M.Si., bersama Arief Kamarudin, menjadi salah satu bentuk kontribusi UAI melalui penelitian dan edukasi publik dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu lingkungan, khususnya terkait pelestarian ekosistem sungai di Jakarta.