Penulis : Dr. Woro Januarti, S.S., M.TCSOL.,Ph.D, Dosen Program Studi Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok Universitas Al-Azhar Indonesia
Ia sekali lagi menguleni adonannya. Bukan hanya satu kali, tapi sudah empat kali per tiga puluh menit. Ia menguleni gumpalan tepung itu dengan seluruh kekuatan tenaganya. Jam sudah menunjukkan pukul 6.00 pagi, sudah waktunya adonan tepung sebesar batu marmer bulat putih berdiameter 30 cm ini ia bagi menjadi adonan-adonan kecil sebesar genggaman tangan anak kecil. Setelah pembagian adonan selesai, ia menjajarkan adonan itu di tatakan rata lalu menutup kembali dengan kain bersih, katanya, “Adonan juga butuh istirahat, bismillah, kita diamkan kembali 30 menit”.
Tak berapa lama, ia bersiap-siap membersihkan seluruh tubuhnya, mengganti pakaian yang baru, mengikat kain di kepalanya, membakar dupa, lalu memulai “ritualnya” di dapur. Ia mengangkat tangannya ke arah kiblat, mulutnya komat kamit selama bermenit-menit, yang terakhir jelas terdengar adalah “Bismillah!”. Lalu dengan senyum sumringahnya ia membuka tutupan adonan-adonannya, menguleni menjadi pipih, lalu menggarisi bagian tengahnya dengan pisau dan “sreng”, adonan masuk ke minyak yang bersih. Minyak mengeluarkan asap yang menguraikan harumnya hingga ke seluruh rumah. Itulah kenapa penamaannya menjadi “youxiang”, karena ini adalah makanan yang digoreng yang disebut dengan “you” dan “xiang” yang keharuman dan harapannya dapat terbang hingga ke angkasa.

Gambar Youxiang
Youxiang merupakan salah satu dari bagian penting dalam setiap kegiatan keagamaan di Tiongkok. Bahkan di Propinsi Xinjiang, Gansu, Ningxia dan komunitas islam lainnya, jika terlihat seseorang membawa youxiang dalam kantong kreseknya, maka orang-orang akan tahu bahwa ia baru saja menghadiri sebuah acara, baik idul fitri, idul adha, maulid, melayat, tahlilan, sunatan, pernikahan, bahkan dalam momen ramadhan hari pertama pun, Youxiang menjadi sahabat sejati yang terhidang bersama kurma di atas meja.
Konon kabarnya, Youxiang adalah panganan yang lahir dari negeri Arab. Makanya, Youxiang ini diyakini sebagai makanan kesukaan Nabi Muhammad SAW hingga dianggap sebagai “makanan suci”. Mengonsumsi dan menyiapkan Youxiang dipandang sebagai manifestasi dari mengikuti tradisi Nabi. Lambat laun, Youxiang menjadi simbol inti budaya di kalangan masyarakat Hui dan komunitas muslim lainnya. Youxiang menjadi sakral karena dianggap dapat menyambungkan hati keluarga pembuat acara dengan Nabi Muhammad, wali, orang suci dan sesepuh yang sudah berada di langit. Makanya, Youxiang ini adalah perwujudan dari makna: kesucian, kemurnian, persatuan, keberuntungan dan keteguhan iman. Youxiang juga dapat dibuktikan dalam catatan sejarah sejak jaman dinasti Yuan yang menyebut “Youbingnya suku Hui” (回回油饼). Lalu penamaan berubah pada catatan dinasti Ming kitab “Hezhou Zhi”《河州志》yang mengatakan bahwa “Pada saat kelahiran, kematian dan berbagai macam kegiatan, harus ada Youxiang dan Sanzi” (岁时祀先,必具油香、馓子).
Dua garis yang terdapat dalam Youxiang juga merupakan sebuah simbol komprehensif, baik untuk agama, etika, interaksi sosial dan identitas etnis. Dengan adanya dua garis, maka saat mengonsumsinya bukan dengan cara digigit, tetapi mengambil Youxiang lalu mematahkannya. Hal ini mengisyaratkan bahwa, Youxiang tidak baik jika dimakan sendirian. Youxiang harus dibagikan sebagian ke orang yang berada di sekitar kita, yaitu mengikuti prinsip “orang tua dulu, kemudian yang muda, tamu dulu, kemudian tuan rumah,” yang mencerminkan rasa hormat kepada orang tua dan tamu. Youxiang juga diberikan kepada tetangga—-baik muslim maupun non muslim—-yang mewujudkan rasa persatuan, saling membantu dan keharmonisan bertetangga.
Dengan berbagai makna ini, maka sempurnalah kelahiran Youxiang. Youxiang yang bulat, melambangkan persatuan dan keberuntungan yang utuh. Warna keemasan dan renyah melambangkan kehidupan yang makmur dan berlimpah. Aromanya yang harum melambangkan kegembiraan dan perayaan. Sedangkan adonan yang dicampur dengan sedikit ubi, akan menciptakan aroma yang lebih hambar yang melambangkan ingatan kepada leluhur, kematian, kenangan dan ungkapan duka cita.
Dalam catatan sejarah Tiongkok, memang sangat banyak bukti yang menceritakan tentang hubungan antara suku Hui dan Islam. Tetapi sebenarnya, dari 55 suku minoritas Tiongkok, bukan hanya suku Hui saja, tetapi ada 9 suku lain yang beragama islam, antara lain: suku Uyghur, suku Kazakh, suku Dongxiang, suku Kirkiz, suku Sala, suku Tajik, suku Uzbek, suku Tatar, suku Bao’an. Dari penamaan suku-suku inilah, terlihat jelas bahwa pengaruh Asia Tengah banyak masuk ke Tiongkok. Jika dihitung dalam jumlah, maka 10 suku minoritas ini menempati 1.8% dari total penduduk Tiongkok, atau berjumlah sekitar 26 juta jiwa. Dari 10 suku minoritas ini, hanya suku Hui-lah yang menyebar ke seluruh propinsi Tiongkok.
Walaupun 10 suku minoritas ini beragama islam, tetapi karena perbedaan keadaan geografis menyebabkan lahirnya beragam budaya Islam. Misalnya dalam pembangunan masjid. Masjid-masjid suku suku Uyghur, suku Kazakh, suku Kirkiz, suku Tajik, suku Uzbek dan lain sebagainya berarsitektur mirip dengan masjid-masjid di negara Asia Tengah. Sedangkan masjid suku Hui berkubah mirip dengan kubah Indonesia yang bulat pada umumnya. Bahasa pengantar yang digunakan di dalam masjid juga berdasarkan dari komunitas tersebut untuk mempermudah penyampaian para ustad. Tetapi dalam hal dasar akidah, fikih, hari perayaan dan lain sebagainya, semuanya tidak ada perbedaan.

Gambar Masjid Suku Uyghur di Xinjiang

Gambar Masjid Suku Hui di Xinjiang
Dalam merayakan hari besar keagamaan, seperti perayaan Idul Fitri, setelah melaksanakan sholat idul fitri, biasanya para jamaah akan dipersilakan untuk makan bersama di mesjid. Setelah kembali ke rumah, maka akan dilanjutkan dengan makan bersama keluarga besar. Menu yang terhidang pastilah terdiri dari daging, ikan dan sayuran, tentu saja ada Youxiang yang manis dan Sanzi. Kemudian setelah saling berkunjung di antara keluarga besar hingga sepupu, biasanya ada beberapa keluarga yang berziarah ke makam. Dengan pentingnya perayaan ini, maka pemerintah Tiongkok memberikan hari libur nasional selama tiga hari kepada daerah-daerah yang memang didiami oleh suku minoritas, seperti di Xinjiang, Gansu dan Ningxia. Dari tiga hari libur ini, maka dapat digunakan oleh para keluarga muslim untuk saling bersilaturahmi dan melakukan aktivitas keagamaan lainnya.

Gambar Hidangan Idul Fitri

Gambar Sanzi

Gambar Komplek Pemakaman Muslim di Xinjiang

Gambar Komplek Pemakaman Muslim di Xinjiang
Berbicara tentang islam, maka islam itu ibarat intan berlian. Berlian, jika dipandang dari sudut manapun akan tetap indah. Islam, walaupun dipandang dari sisi perbedaannya, ataupun sisi kesamaannya, baik di Tiongkok, maupun di negara lain, baik dari sudut pandang manapun, maka yang dapat terlihat adalah keindahan yang mempesona. Islam bukan hanya melahirkan keimanan, tetapi juga budaya yang agung. Budaya yang terus hidup turun temurun. Budaya yang melahirkan berbagai akulturasi bangunan Masjid di Tiongkok, budaya yang melahirkan aksara Uyghur yang luar biasa berkarakter, budaya yang melahirkan percampuran etika antara etika Islam dan Tiongkok, dan lain sebagainya, semuanya bertebaran hingga ke seluruh pelosok Tiongkok. Budaya-budaya ini seperti pula Youxiang, harumnya bukan hanya memenuhi seluruh Tiongkok, tetapi juga bahkan menyapa hingga beterbangan ke langit angkasa sana.