Dalam ruang-ruang sidang dan mimbar akademik, kita sering mendengar gema Pasal 34 UUD 1945—sebuah janji suci konstitusi bahwa fakir miskin dan anak-anak telantar dipelihara oleh negara. Namun, di sudut-sudut jalan dan di balik pintu rumah yang sunyi, janji itu sering kali terasa jauh bagi mereka yang hidup dengan disabilitas intelektual.
Di saat negara masih berproses menghadirkan sistem pelindungan yang utuh, Prof. Suparji memilih untuk hadir lebih dulu.
Bagi beliau, intelektualitas bukan sekadar alat untuk membedah kerumitan hukum, melainkan jembatan untuk memahami mereka yang sering dianggap “kurang akal” oleh dunia.
Beliau melihat melampaui keterbatasan kognitif; beliau melihat martabat manusia yang tidak boleh terabaikan oleh birokrasi yang lamban.
Menembus Dinding Pengabaian
Ketika banyak orang memalingkan wajah karena ketidakpahaman atau rasa canggung, Prof. Suparji memberikan hal yang paling berharga bagi seorang penyandang disabilitas intelektual: atensi dan pengakuan.
Kehadiran beliau bukan sekadar bantuan materi, melainkan sebuah pernyataan tegas bahwa setiap nyawa memiliki hak untuk didengar dan dicintai.
”Hukum tanpa kemanusiaan hanyalah kata-kata hampa. Jika konstitusi mengamanatkan kehadiran negara, maka sebagai manusia, kita tidak perlu menunggu stempel resmi untuk menjadi representasi dari kasih sayang tersebut.” Ungkap nya.
Mengisi Celah Konstitusi
Langkah-langkah kecil yang penuh empati ini adalah kritik halus namun tajam bagi sistem.
Melalui kepeduliannya, beliau membuktikan bahwa sembari kita menagih tanggung jawab negara, kemanusiaan individu tidak boleh cuti.
Beliau mengisi kekosongan peran negara dengan kehangatan pribadi, memastikan bahwa mereka yang paling rentan tidak merasa berjalan sendirian di tanah airnya sendiri.
Humanisme Prof. Suparji mengajarkan kita bahwa menjadi ahli hukum yang hebat tidaklah cukup; kita harus menjadi manusia yang utuh. Sebab, keadilan yang paling hakiki adalah saat kita mampu memanusiakan mereka yang selama ini terpinggirkan dari nalar publik.
Persahabatan Prof Suparji tanpa basa basi tetapi autentik. Di berbagai tempat, menemukan kualitas individu sekelas itu dapat kita temui pada Prof Suparji. Karena beliau punya obsesi dan inisiasi untuk mengangkat derajat mereka, supaya dapat meringankan beban keluarga.