Pengalaman berorganisasi tidak hanya menjadi wadah pengembangan diri, tetapi juga bekal penting dalam membangun karakter, kompetensi, dan kesiapan karier mahasiswa di masa depan. Untuk membekali mahasiswa dengan pemahaman tersebut, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Al-Azhar Indonesia (FISIP UAI) menggelar kuliah umum bertajuk “Pengalaman Organisasi di Kampus dan Manfaatnya bagi Karier Gen Z di Masa Depan” pada Rabu, 5 Agustus 2026, di Ruang 317 A dan B UAI.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa, khususnya para pengurus organisasi kemahasiswaan, diajak memahami pentingnya pengalaman berorganisasi dalam membentuk karakter, mengembangkan kompetensi, serta mempersiapkan karier di era modern. Kegiatan ini juga mendorong mahasiswa untuk memperluas jejaring sebagai bekal memasuki dunia profesional.
Kegiatan ini dihadiri oleh Dekan FISIP UAI, Dr. Damayanti Wardyaningrum, S.E., M.Si., Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi, Ketua Program Studi Hubungan Internasional, para dosen, serta mahasiswa UAI. Peserta yang mengikuti kuliah umum ini merupakan anggota dan pengurus organisasi mahasiswa (Ormawa), di antaranya Keluarga Mahasiswa FISIP (KM FISIP) UAI, Korps Mahasiswa Hubungan Internasional (KOMAHI), dan Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi (KOMIK).
Dalam pemaparannya, Agus Khudlori, Lc. menekankan bahwa pengalaman selama menjadi mahasiswa akan menjadi bekal berharga ketika memasuki dunia profesional. Menurutnya, mahasiswa perlu aktif berorganisasi tanpa mengesampingkan tanggung jawab akademik. “Tekunilah organisasi mahasiswa, tapi jangan lupakan aspek akademik,” ujarnya. Ia juga mengingatkan agar mahasiswa memilih organisasi yang sesuai dengan minat dan tujuan karier. Menurutnya, pengalaman berorganisasi akan lebih bermakna apabila selaras dengan passion, misalnya mahasiswa yang ingin berkarier di bidang media dapat bergabung dengan pers mahasiswa untuk mengasah keterampilan sejak di bangku kuliah.
Selain menjadi ruang pengembangan kompetensi, organisasi juga berperan dalam membentuk karakter kepemimpinan. Agus Khudlori menjelaskan bahwa seorang pemimpin perlu memiliki nilai-nilai shiddiq, amanah, tabligh, dan fathonah, serta mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Ia juga mengajak setiap pengurus memiliki rasa tanggung jawab terhadap organisasinya dengan menanamkan prinsip, “Organisasi boleh mati, asal jangan di zaman saya,” sebagai bentuk komitmen untuk menjaga keberlangsungan organisasi dari satu kepengurusan ke kepengurusan berikutnya.
Agus Khudlori turut menyoroti pentingnya membangun jejaring dan memperkaya pengalaman melalui pekerjaan sambilan. Ia membagikan pengalamannya saat menjadi mahasiswa di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir, ketika bekerja sebagai penerjemah kitab. Pengalaman tersebut mengasah kemampuan menulis dan penyuntingan hingga menjadi bekal dalam membangun usaha penerbitan. Menurutnya, pengalaman di luar ruang kelas dapat membuka lebih banyak peluang sekaligus menjadi modal berharga dalam membangun karier.
Melalui kuliah umum ini, mahasiswa memperoleh wawasan mengenai pentingnya menyeimbangkan prestasi akademik dengan pengalaman berorganisasi, memilih organisasi sesuai passion, membangun karakter kepemimpinan, serta memperluas jejaring dan pengalaman sebagai bekal menghadapi dunia profesional.








