Kabar membanggakan datang dari Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Arab Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI). Dosen UAI, Sayyed Zuhdi Abdil Ghany, Lc., S.S., M.Hum., berhasil meraih gelar doktor setelah menyelesaikan Sidang Promosi Doktor di Aula Pusat Studi Bahasa Jepang, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran (UNPAD) pada Kamis, 6 Agustus 2026. Pencapaian tersebut diraih melalui penelitian terhadap naskah kuno berbahasa Arab berjudul Ādāb al-Murīd wa al-Murād, yang ditulis tangan pada tahun 1655 dan tersimpan di Perpustakaan Universitas Leipzig, Jerman.
Sidang tersebut turut dihadiri oleh sejumlah dosen Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Arab UAI, di antaranya Dr. Faisal Hendra, Lc., M.A., Dr. Zaqiatul Mardiah, S.S., M.Hum., Dr. Nur Hizbullah, S.Ag., M.Hum., Fazlur Rachman, S.Pd.I., M.S., dan Febri Priyoyudanto, S.S., M.HSc. Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) UAI, Dr. Iin Suryaningsih, S.S., M.A., turut mengikuti sidang terbuka secara daring melalui Zoom. Sementara itu, tim penguji berasal dari internal Universitas Padjadjaran (UNPAD) dengan tim promotor dari Universitas Gadjah Mada (UGM).
Dalam sidang promosi doktor tersebut, Dosen Prodi Bahasa dan Kebudayaan Arab UAI meneliti naskah Ādāb al-Murīd wa al-Murād yang membahas etika hubungan antara murid dan guru dalam tradisi tasawuf. Penelitian dilakukan dengan menyunting dan menerjemahkan naskah, kemudian menganalisisnya dari tiga sisi, yaitu jalinan kutipan dari berbagai sumber Islam, cara naskah berkomunikasi dengan pembacanya, serta nilai-nilai etika yang ditawarkan dalam hubungan guru dan murid.
Penelitian tersebut dilatarbelakangi oleh masih banyaknya naskah Arab-Islam kuno, termasuk yang bercorak tasawuf, yang belum dikaji secara ilmiah. Naskah Ādāb al-Murīd wa al-Murād menjadi salah satu naskah yang sebelumnya belum pernah dikaji. Di sisi lain, Sayyed Zuhdi melihat adanya persoalan dalam dunia pendidikan, seperti memudarnya rasa hormat murid kepada guru dan lemahnya keteladanan pendidik. Kondisi tersebut mendorong kajian terhadap nilai-nilai dalam naskah klasik untuk melihat relevansinya dengan persoalan pendidikan.
Dari penelitian tersebut, Dosen UAI menemukan sejumlah temuan penting. Secara filologis, penelitian berhasil mengidentifikasi dan memperbaiki berbagai kesalahan penyalinan dalam naskah. Naskah tersebut juga menunjukkan jalinan kutipan dari Al-Qur’an, hadis, dan ucapan para ulama, termasuk mempertemukan pemikiran tokoh-tokoh yang selama ini dipandang berbeda, seperti Ibnu Taimiyah dan sejumlah tokoh sufi. Selain itu, naskah mengajak pembacanya untuk melakukan perenungan dan bercermin pada diri sendiri, bukan sekadar memberikan nasihat secara satu arah.
Salah satu temuan utama penelitian tersebut menunjukkan bahwa hubungan guru dan murid tidak dibangun atas kepatuhan yang bersifat buta. Temuan tersebut yaitu konsep etika yang dibangun dalam tiga arah hubungan, yakni guru kepada murid, murid kepada guru, dan sesama murid. Hasil penelitian ini menjadi bagian dari kontribusi akademik dalam pengembangan kajian naskah Arab-Islam klasik serta penggalian nilai-nilai etika yang relevan bagi dunia pendidikan, khususnya dalam konteks pembelajaran dan pengembangan keilmuan di UAI.