Select Page

Makna kemuliaan dan kehinaan menjadi pembahasan dalam Majelis Taklim Rabu Pagi yang diselenggarakan Yayasan Pesantren Islam (YPI) Al Azhar di Ruang Utama Masjid Agung Al-Azhar, Rabu, 2 September 2026. Kajian bertema “Tadabbur Asmaul Husna (Al-Mu‘izz & Al-Mudzill)” tersebut disampaikan oleh Dosen dan Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI), Abdullah Hakam Shah, Lc., M.A.

Dalam kajiannya, Abdullah menjelaskan makna Al-Mu‘izz, yaitu Allah SWT sebagai Dzat Yang Maha Memuliakan, dan Al-Mudzill, yaitu Allah SWT sebagai Dzat Yang Maha Menghinakan. Merujuk pada Surah Ali Imran ayat 26, ia menjelaskan bahwa jabatan, kekayaan, maupun kekuasaan di dunia tidak secara otomatis menunjukkan kemuliaan seseorang di hadapan Allah SWT.

Dosen Prodi PAI UAI menekankan bahwa kemuliaan yang sesungguhnya berkaitan dengan hidayah dan ketaatan kepada Allah SWT. “Jadi kemuliaan itu dengan hidayah dari Allah. Sebaliknya, kehinaan itu dengan maksiat kepada Allah,” ujar Abdullah.

Abdullah juga mengangkat kisah Rasulullah SAW ketika menghadapi tawaran dari para pembesar Quraisy berupa harta, kedudukan, dan kekuasaan. Rasulullah SAW tetap teguh menjalankan dakwah dan tidak meninggalkan ketaatan kepada Allah SWT demi memperoleh kemuliaan duniawi. Kisah tersebut menunjukkan keteguhan Rasulullah SAW dalam menjalankan dakwah dan ketaatan kepada Allah SWT meskipun menghadapi tawaran kemuliaan duniawi.

Melalui kajian tersebut, jemaah diajak memahami bahwa kemuliaan dan kehinaan berada dalam kuasa Allah SWT. Tadabbur Al-Mu‘izz dan Al-Mudzill mengingatkan pentingnya menjadikan hidayah dan ketaatan sebagai ukuran dalam memaknai kemuliaan, bukan semata-mata pencapaian duniawi.