Program mobilitas internasional Tohoku University periode 2025-2026 memberikan kesempatan bagi dua mahasiswa Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) untuk memperluas pengalaman akademik sekaligus mengenal budaya dan kehidupan masyarakat Jepang. Selama satu tahun, keduanya mengikuti perkuliahan dan berbagai kegiatan di lingkungan kampus maupun masyarakat sekitar.
Program tersebut diikuti Haydar dan Raihan Ahmad Yassin melalui beasiswa Japan Student Services Organization (JASSO) pada September 2025 hingga September 2026. Keduanya menjalani program di Tohoku University yang berlokasi di Kota Sendai, Prefektur Miyagi.
Selama mengikuti program, mahasiswa memperoleh tunjangan beasiswa JASSO sebesar 80.000 yen per bulan. Tohoku University juga menyediakan asrama bagi mahasiswa internasional dengan biaya yang lebih terjangkau dibandingkan apartemen, dengan masa tinggal hingga dua tahun.
Dalam kegiatan akademik, mahasiswa UAI mengikuti perkuliahan dengan memilih mata kuliah yang masih berkaitan dengan Faculty of Arts & Letters. Perkuliahan menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar dalam lingkungan akademik internasional sekaligus berinteraksi dengan mahasiswa Tohoku University. Salah satu bidang yang dipelajari adalah Applied Music atau musik terapan, sementara pada mata kuliah spesialis terdapat pula pembelajaran yang berkaitan dengan pengajaran bahasa Jepang.
Di luar kegiatan akademik, mahasiswa mengikuti berbagai kegiatan bersama PPI Indonesia di Sendai, termasuk Tohoku University International Festival. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa UAI menjadi sukarelawan sekaligus memperkenalkan makanan dan minuman Indonesia kepada masyarakat Jepang. Salah satu mahasiswa UAI, Haydar dari Prodi Bahasa dan Kebudayaan Jepang UAI, juga sempat bekerja paruh waktu sebagai loper koran dan mendapat kesempatan berbagi pengalaman sebagai mahasiswa asing yang bekerja di bidang tersebut.
Mahasiswa juga berkesempatan mengenal budaya setempat melalui kegiatan bersama komunitas di Sendai, seperti mengikuti upacara minum teh dan mempelajari cara membuat kabuto. Kegiatan tersebut melengkapi pengalaman selama berada di Jepang sekaligus memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat setempat.
Pengalaman selama berada di Jepang juga memberikan Haydar gambaran yang lebih dekat mengenai kehidupan masyarakat setempat. Interaksi sehari-hari membuatnya melihat secara langsung berbagai kebiasaan yang sebelumnya hanya dikenalnya dari informasi yang beredar di media sosial. “Mereka sangat mematuhi peraturan, menjaga kebersihan, dan sangat menghargai waktu. Hal-hal yang sebelumnya kami kira hanya terlihat di media sosial ternyata benar-benar kami temui selama berada di Jepang,” ujar Haydar.
Sementara itu, Ketua Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Jepang UAI, Dr. Nina Alia Ariefa, S.S., M.Si., melihat pengalaman mahasiswa selama mengikuti program di Jepang juga memiliki kaitan dengan pengembangan kerja sama institusional. “Apa yang sudah didapatkan selama satu tahun beraktivitas di Jepang tentunya dapat memberikan manfaat bagi mahasiswa dan juga mendukung pengembangan hubungan kerja sama antara UAI dan Tohoku University,” ujar Nina.
Pengalaman di Tohoku University pada 2025-2026 menjadi bekal yang dibawa Haydar dan Raihan kembali ke UAI setelah menyelesaikan satu tahun mobilitas akademik di Jepang.