Select Page

Perjalanan Sultan Ariq Faisal Bahri sebagai alumni Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) berlanjut ke jenjang doktoral. Alumni Program Studi Bimbingan Konseling Islam UAI tersebut berhasil meraih Beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui Program Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKUMI) untuk menempuh pendidikan Doktoral Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir di Universitas PTIQ Jakarta.

Perjalanan tersebut menjadi kelanjutan dari proses akademik dan pengabdian Ariq yang telah dibangun sejak menjadi mahasiswa UAI. Memulai pendidikan sarjana pada 2017, Ariq tidak hanya menjalani kegiatan akademik, tetapi juga aktif dalam berbagai organisasi di tingkat program studi, fakultas, hingga universitas.

Salah satu pengalaman tersebut adalah ketika Ariq dipercaya menjadi Ketua Mahasiswa dalam kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) UAI tahun 2019. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari prosesnya dalam mengembangkan kemampuan kepemimpinan, organisasi, komunikasi, dan pendampingan mahasiswa.

Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana pada 2021, Ariq tidak langsung meninggalkan lingkungan UAI. Ia justru melanjutkan kiprahnya sebagai bagian dari pengembangan mahasiswa dengan bergabung di Career Development Center UAI.

Pada 2023, Ariq kemudian melanjutkan perannya di bidang kemahasiswaan. Di tengah aktivitas profesional tersebut, ia juga menempuh pendidikan Magister Studi Islam di Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Pendidikan magister diselesaikannya pada 2025. Setelah menyelesaikan studi tersebut, Ariq kembali memperoleh kepercayaan di lingkungan UAI untuk menjalankan tugas sebagai Sekretaris Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni.

Rangkaian pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan Ariq hingga kemudian melanjutkan pendidikan doktoral melalui Program Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal.

Dari Kampus ke Program Kaderisasi Ulama

Beasiswa Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal merupakan program kerja sama yang didukung oleh Kementerian Keuangan melalui Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dan diselenggarakan bersama Badan Pengelola Masjid Istiqlal serta Kementerian Agama. Program ini diperuntukkan bagi calon ulama dan memberikan kesempatan untuk menempuh pendidikan magister maupun doktoral pada bidang Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir di Universitas PTIQ Jakarta.

Berbeda dengan program beasiswa yang hanya berfokus pada pendidikan formal, PKUMI mengintegrasikan pendidikan akademik dengan pendidikan kaderisasi keulamaan. Mahasiswa tidak hanya diarahkan untuk menguasai disiplin ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, tetapi juga memperoleh penguatan berbagai khazanah keislaman, metodologi kajian Islam, pemikiran Islam kontemporer, fikih, usul fikih, maqashid syariah, bahasa Arab, serta wawasan mengenai persoalan masyarakat dan perkembangan zaman.

Sejak awal pembentukannya, PKUMI dirancang untuk melahirkan kader ulama yang mampu menguasai khazanah keislaman klasik sekaligus memahami perkembangan ilmu pengetahuan dan persoalan kontemporer. Program ini juga membawa visi untuk melahirkan ulama yang memiliki wawasan lebih luas, termasuk dalam konteks masyarakat global.

Proses pembelajaran tersebut mempertemukan mahasiswa dengan para ulama, akademisi, dan tokoh nasional yang memiliki kepakaran dalam berbagai bidang keislaman. Dalam berbagai kegiatan akademiknya, PKUMI menghadirkan nama-nama seperti Prof. Dr. KH. Said Agil Husein Al-Munawwar, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, Prof. Dr. Mulyadi Kartanegara, Prof. Dr. Sopa, serta sejumlah ulama dan akademisi lainnya.

Keterlibatan para tokoh dengan latar belakang keilmuan yang beragam tersebut memberikan warna tersendiri dalam proses kaderisasi. Mahasiswa tidak hanya memperoleh perspektif keislaman dari ruang kelas, tetapi juga berkesempatan berdialog dengan tokoh yang memiliki pengalaman panjang dalam bidang keilmuan, pendidikan, keulamaan, dan kehidupan kebangsaan.

Salah satu figur yang pernah terlibat dalam lingkungan pendidikan kader ulama adalah Prof. Dr. KH. Said Agil Husein Al-Munawwar. Dalam kuliah perdana PKUMI, ia menyampaikan pentingnya melahirkan ulama yang memiliki kemampuan multidisipliner, sehingga tidak hanya menguasai ilmu keislaman, tetapi juga mampu merespons perkembangan zaman, termasuk perkembangan teknologi dan media digital.

Selain tokoh ulama dan akademisi, wawasan kebangsaan dan kehidupan sosial kemasyarakatan juga menjadi bagian dari pembentukan kader. Salah satu tokoh yang memiliki pengalaman dalam bidang keagamaan dan kebangsaan adalah KH Lukman Hakim Saifuddin, yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama Republik Indonesia dan kemudian memperoleh gelar Doktor Honoris Causa dalam bidang Pengkajian Islam dengan peminatan Moderasi Beragama dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Dengan lingkungan akademik tersebut, PKUMI dirancang untuk mempertemukan berbagai tradisi keilmuan dalam proses pendidikan kader ulama.

Memperluas Wawasan melalui Pengalaman Internasional

Selain pendidikan di Indonesia, program PKUMI juga memberikan ruang bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman akademik internasional.

Untuk peserta program doktoral, PKUMI menetapkan program penguatan kapasitas menjadi ulama bertaraf internasional dalam bentuk *short course selama enam bulan*. Program tersebut menjadi bagian dari masa studi doktoral dan didukung penuh oleh LPDP.

Program short course tersebut menjadi salah satu bagian penting dari desain PKUMI untuk memperluas wawasan akademik mahasiswa. Dalam pengembangannya, PKUMI telah membangun kerja sama dengan sejumlah institusi pendidikan di luar negeri, termasuk di Amerika Serikat dan Mesir. Program tersebut diarahkan untuk memperkuat metodologi penelitian, memperluas referensi akademik, serta memberikan pengalaman berinteraksi dengan lingkungan keilmuan internasional.

Bagi peserta doktoral, pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses untuk melihat kajian Islam tidak hanya dari perspektif lokal, tetapi juga dalam konteks akademik dan kehidupan masyarakat global.

Melanjutkan Tradisi Keilmuan dari UAI

Bagi Ariq, perjalanan menuju pendidikan doktoral tidak dapat dipisahkan dari proses yang dijalaninya selama menjadi mahasiswa UAI.

Latar belakang Bimbingan Konseling Islam yang ditempuh di UAI, pengalaman organisasi dan kepemimpinan mahasiswa, serta pengalaman profesional dalam mendampingi dan mengembangkan mahasiswa menjadi bagian dari proses yang kemudian dilanjutkan melalui studi Magister Studi Islam.

Pengalaman tersebut kemudian membawanya pada kajian yang lebih mendalam mengenai studi Islam dan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir pada jenjang doktoral.

“Perjalanan ini saya lihat bukan sebagai sesuatu yang berdiri sendiri. Apa yang saya jalani hari ini merupakan kelanjutan dari proses yang dibangun sejak menjadi mahasiswa, termasuk pengalaman belajar, berorganisasi, mendampingi mahasiswa, dan bekerja di lingkungan UAI,” ujar Ariq.

Menurutnya, lingkungan kampus memiliki peran penting dalam membentuk cara seseorang melihat ilmu dan pengabdian. Pengalaman selama berada di UAI menjadi salah satu fondasi yang mendorongnya untuk terus melanjutkan pendidikan sekaligus mengembangkan kontribusi di bidang keislaman dan kemasyarakatan.

Perjalanan Ariq menjadi salah satu gambaran bahwa proses pendidikan di perguruan tinggi tidak berhenti ketika seorang mahasiswa menyelesaikan studinya. Pengalaman akademik, organisasi, dan pengabdian yang diperoleh selama berada di kampus dapat menjadi bekal untuk melanjutkan perjalanan pada ruang yang lebih luas.

Melalui pendidikan Doktoral Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir di Universitas PTIQ Jakarta serta program kaderisasi ulama PKUMI, Ariq berharap dapat terus mengembangkan kapasitas keilmuan sekaligus mempersiapkan diri untuk memberikan kontribusi yang lebih luas bagi masyarakat.

Bagi UAI, perjalanan tersebut juga menjadi bagian dari kiprah alumni yang terus bertumbuh setelah menyelesaikan pendidikan di kampus—melanjutkan pendidikan, memperluas pengalaman, dan membawa nilai-nilai yang diperoleh selama menjadi bagian dari keluarga besar Universitas Al-Azhar Indonesia ke ruang pengabdian yang lebih luas.