Pengembangan pendidikan tinggi yang inklusif menjadi salah satu fokus Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) dalam memperluas jejaring internasional. Komitmen tersebut diwujudkan melalui diskusi bersama Asia Human Development Centre (AHDC) dari Jepang dan Pijar Foundation dalam rangka KRISAN Fellowship 2026 yang berlangsung di Ruang Serbaguna UAI pada Selasa, 4 Agustus 2026. Kegiatan ini menjadi wadah pertukaran gagasan mengenai penguatan layanan bagi penyandang disabilitas serta pengembangan kolaborasi di bidang pendidikan tinggi.
Acara ini dihadiri oleh Rektor Universitas Al-Azhar Indonesia, Prof. Dr. Widodo Muktiyo, jajaran pimpinan universitas, serta perwakilan Unit Layanan Disabilitas (ULD) UAI. Delegasi AHDC dipimpin oleh CEO AHDC, Hisao Chiba, didampingi Shiori Kano dan Prof. Miyagi. Sementara dari Pijar Foundation hadir Programme Strategist Ellya Rizki H., Policy and Advocacy Specialist Yessi F.S., serta Head of Public Policy Anthony Marwan.
Dalam sesi diskusi, UAI bersama AHDC dan Pijar Foundation membahas rencana kemitraan strategis dalam pengembangan pendidikan tinggi yang inklusif. Kolaborasi tersebut difokuskan pada penguatan jejaring antar kampus, berbagi pengetahuan dan sumber daya, serta pengembangan kapasitas sumber daya manusia, khususnya dalam pemberdayaan penyandang disabilitas. AHDC juga membagikan pengalaman Jepang dalam membangun jaringan perguruan tinggi yang saling mendukung melalui riset, teknologi, dan layanan bagi mahasiswa penyandang disabilitas sebagai referensi untuk mengembangkan model kampus inklusif yang sesuai dengan karakteristik pendidikan tinggi di Indonesia.
Dalam sambutannya, Rektor UAI, Prof. Dr. Widodo Muktiyo, menyampaikan bahwa kunjungan AHDC dan Pijar Foundation menjadi momentum penting untuk memperkuat komitmen UAI dalam menghadirkan pendidikan tinggi yang inklusif sekaligus memperluas jejaring internasional. “Kami berharap pertemuan ini menjadi langkah awal terjalinnya kolaborasi antara UAI, AHDC, dan Pijar Foundation, sehingga kami dapat mempelajari praktik-praktik terbaik dari Jepang dalam mewujudkan kampus yang inklusif,” ujar beliau.
Menanggapi hal tersebut, perwakilan AHDC dan Pijar Foundation mengapresiasi komitmen UAI dalam menghadirkan ULD sebagai wujud penerapan prinsip education for all. Keduanya juga menyoroti meningkatnya kesadaran perguruan tinggi di Jepang dalam membangun kampus yang inklusif serta mengajak perguruan tinggi di Indonesia untuk saling berbagi pengalaman dan praktik baik guna memperkuat ekosistem pendidikan tinggi yang ramah bagi penyandang disabilitas.
Melalui KRISAN Fellowship 2026, UAI menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan ekosistem pendidikan tinggi yang inklusif melalui kolaborasi dengan berbagai mitra strategis. Kegiatan ini memperkuat langkah UAI dalam mengembangkan Unit Layanan Disabilitas (ULD), sekaligus memperluas jejaring internasional melalui pertukaran pengetahuan, pengalaman, dan praktik baik di bidang pendidikan inklusif.











