Mahasiswa Program Studi Akuntansi Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI), Ibrahim Nur Wahid, menyampaikan kuliah tujuh menit (kultum) sore bertema Hidup di Era Sibuk: Masihkah Allah jadi Prioritas? di Masjid Agung Al-Azhar pada Senin, 6 April 2026. Kultum ini mengajak jamaah untuk merefleksikan kembali posisi Allah di tengah padatnya aktivitas dan tuntutan kehidupan modern.

Ibrahim memulai kultum dengan menyoroti fenomena kesibukan yang kerap menjadi kebanggaan, mulai dari kuliah, pekerjaan, organisasi, hingga berbagai target dan tenggat waktu. Menurutnya, kesibukan bukanlah hal yang keliru, namun yang menjadi masalah adalah apa yang diprioritaskan di dalamnya. Ia mengingatkan bahwa tujuan utama hidup manusia telah ditegaskan dalam QS. Adz-Dzariyat ayat 56, yaitu untuk hanya untuk beribadah kepada Allah SWT.

“Kesibukan itu boleh, bahkan dianjurkan. Tapi jangan sampai kesibukan itu menjauhkan kita dari tujuan utama kita diciptakan,” ujarnya. Ibrahim menekankan bahwa kehidupan yang terlalu berorientasi pada dunia berpotensi membuat seseorang kehilangan arah, sementara menjadikan Allah sebagai prioritas justru akan menghadirkan ketenangan dan kecukupan dalam hidup.

Mahasiswa Prodi Akuntansi juga mengajak jamaah untuk melakukan introspeksi sederhana dalam kehidupan sehari-hari, seperti apa yang didahulukan ketika adzan berkumandang, bagaimana waktu luang dimanfaatkan, serta kepada siapa seseorang kembali saat menghadapi kegelisahan. Ia juga mengutip hadis Rasulullah SAW. yang menjelaskan bahwa orang yang menjadikan akhirat sebagai tujuan utama akan dimudahkan urusannya dan diberikan kecukupan oleh Allah.

Dalam kultumnya ia juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara aktivitas dunia dan akhirat. Kesibukan tetap dapat dijalani, namun harus disertai dengan komitmen untuk menjaga shalat di awal waktu, meluangkan waktu untuk Al-Qur’an, serta tidak melupakan tujuan akhir kehidupan.

Melalui kultum sore bertema Hidup di Era Sibuk: Masihkah Allah jadi Prioritas?, mahasiswa Program Studi Akuntansi UAI, Ibrahim Nur Wahid, mengajak jamaah untuk menata kembali prioritas hidup, sehingga mampu menjalani aktivitas duniawi tanpa melupakan kedekatan dengan Allah sebagai tujuan utama.