“Escaping bukan berarti lari dari masalah, tetapi cara untuk mengurangi dampak stres agar kita bisa berpikir lebih jernih,” ujar Siti Rahmawati, M.Psi., Psikolog, dalam sesi diskusi Seminar Poskologi 2025.
Program Studi Psikologi Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) kembali menyelenggarakan acara tahunan Poskologi 2025 pada Sabtu, 1 November 2025 di Auditorium UAI. Kegiatan yang telah berlangsung sejak tahun 2015 ini mengusung tema “Escape to Embrace: Turning Coping into Healing”, dengan tujuan mengajak mahasiswa memahami cara menghadapi stres dan menjadikan proses coping sebagai jalan menuju penyembuhan dan pertumbuhan diri. ‘
Acara ini turut dihadiri oleh Wakil Dekan Fakultas Psikologi dan Pendidikan (FPP) UAI, Abdullah Hakam Shah, Lc., M.A., Ketua Program Studi Psikologi, Liana Mailani, S.Psi., M.A., serta para dosen dan mahasiswa Psikologi UAI.
Sambutan Kaprodi Psikologi
Dalam sambutannya, Liana Mailani, S.Psi., M.A., menekankan pentingnya ilmu psikologi untuk dipelajari agar dapat membantu masyarakat mengatasi persoalan mental. Beliau berharap mahasiswa Psikologi UAI dapat menjadi generasi yang berperan aktif sebagai calon psikolog profesional tanpa harus menunggu jenjang S2, karena kini dapat langsung melanjutkan ke pendidikan profesi psikolog sebagaimana profesi dokter.
Pemateri Pertama: Mengenal Stres dan Strategi Coping
Pemateri pertama, Siti Rahmawati, M.Psi., Psikolog., menjelaskan secara mendalam tentang stres, coping, hingga escaping. Beliau menyoroti bahwa coping merupakan upaya kognitif dan perilaku untuk mengelola dan menyesuaikan diri terhadap beban hidup. Jenis coping pun beragam, mulai dari problem-focused, emotion-focused, adaptive, maladaptive, support, cognitive, physical, hingga religious coping. Ia menegaskan bahwa escaping bukan berarti melarikan diri, melainkan mekanisme untuk mengurangi dampak stres agar individu dapat berpikir lebih jernih.
Pemateri Kedua: Pentingnya Dukungan Sosial dalam Healing
Dra. Sri Haryanti, M.A., Psikolog, membawakan materi bertema “Creating Safe Spaces: Social Support and Community in Healing.” Beliau menjelaskan bahwa dukungan sosial memiliki peran penting dalam meningkatkan kesejahteraan dan melindungi individu dari efek negatif stres. “Kita adalah makhluk sosial, oleh karena itu kita butuh keluarga, teman, sahabat, dan lingkungan yang menerima kita,” ujarnya. Bentuk dukungan sosial terdiri dari dukungan emosional, informasional, penilaian positif (appraisal), dan bantuan nyata (instrumental support), yang semuanya membantu seseorang untuk merasa diterima dan lebih kuat menghadapi tantangan hidup.
Pemateri Ketiga: Healing dalam Perspektif Islam
Sesi berikutnya diisi oleh Mia Silmiah Sazely, M.Si., dengan tema “Finding Peace through Faith: Islamic Perspectives on Coping and Healing.” Beliau memaparkan bahwa konsep konseling Islam telah ada sejak masa Nabi Adam, ketika beliau menyesali kesalahan karena melanggar perintah mendekati buah Khuldi. Dalam Islam, kesehatan mental berarti sehat secara fisik dan spiritual, berlandaskan rukun iman dan rukun Islam. Berbagai terapi Islami seperti terapi syahadat, salat, puasa, zakat, sedekah, dan haji diyakini dapat membantu proses penyembuhan batin. Ia menekankan bahwa keseimbangan spiritual menjadi kunci dalam membangun mental yang tenang dan adaptif.
Pemateri Keempat: Coping sebagai Jalan Menuju Pertumbuhan
Terakhir, Firman Ramdhani, M.Psi., Psikolog, menyampaikan materi “Escape to Growth: Healing Through Adaptive Coping.” Beliau menjelaskan konsep belief system, yaitu bagaimana situasi memunculkan pikiran otomatis yang memengaruhi emosi dan perilaku. Pikiran negatif dapat melahirkan perilaku negatif, membentuk self-perpetuating cycle atau siklus yang semakin memperkuat pola pikir tersebut. Untuk memutus siklus negatif, seseorang perlu melatih pendekatan cognitive-emotional-behavioral, yaitu dengan mengelola pikiran, emosi, dan perilaku agar tetap adaptif serta tumbuh dari setiap pengalaman hidup.
Pada sesi diskusi, mahasiswa aktif bertanya seputar dunia psikologi, mulai dari cara mengelola stres hingga pentingnya peran psikolog dalam kehidupan sehari-hari. Antusiasme ini menunjukkan bahwa mahasiswa UAI memiliki minat yang tinggi untuk memahami ilmu psikologi secara lebih mendalam dan aplikatif.
Penutup dan Pengumuman Pemenang Lomba
Di penghujung kegiatan, diumumkan para pemenang lomba yang turut memeriahkan Poskologi 2025. Perlombaan yang diselenggarakan yaitu Lomba Mobile Legends dan Lomba Infografis. Pemenang lomba Mobile Legends yaitu Tim Bangka Pride, Team Aks1, dan VCR, sedangkan juara lomba Infografis diraih oleh Nikita Yolanda, Muhammad Rifqi, dan Himafal Aisyah. Kedua lomba tersebut menjadi ajang ekspresi kreativitas mahasiswa yang menunjukkan semangat kolaborasi dan kompetisi positif di UAI.
Acara ditutup dengan sesi foto bersama seluruh peserta, panitia, dan narasumber sebagai penanda berakhirnya rangkaian Seminar Poskologi 2025.
Ingin memahami lebih dalam dunia psikologi dan kesehatan mental? Temukan tempat yang tepat untuk belajar dan bertumbuh bersama di Program Studi Psikologi Universitas Al-Azhar Indonesia! Yuk kunjungi penerimaan.uai.ac.id untuk informasi pendaftaran mahasiswa baru.
- Poskologi 2025
- Poskologi 2025
- Poskologi 2025
- Poskologi 2025
- Poskologi 2025
- Poskologi 2025
- Poskologi 2025
- Poskologi 2025
- Poskologi 2025








