Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) kembali menjadi pusat kegiatan akademik nasional dengan menjadi tuan rumah Seminar dan Lokakarya Tahunan ASPBJI (Asosiasi Studi Pendidikan Bahasa Jepang Indonesia) ke-24 yang berlangsung di Auditorium Lantai 3 UAI pada 25 Oktober 2025. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Jepang UAI, ASPBJI, dan The Japan Foundation Jakarta. Acara ini menyoroti pengembangan pembelajaran Bahasa Jepang melalui pendekatan Can-Do (課題遂行型の⽇本語教育).

Tujuan pelaksanaan Seminar dan Lokakarya Tahunan ASPBJI ke-24 yaitu untuk mendorong peningkatan kemampuan Bahasa Jepang, baik di perguruan tinggi maupun lembaga pendidikan. Fokusnya agar lebih pembelajaran bahasa Jepang dapat berorientasi pada hasil nyata dan kompetensi komunikatif yang kontekstual.

Pembukaan dan Sambutan

Acara dibuka dengan sambutan dari Kaprodi Bahasa dan Kebudayaan Jepang UAI, Vera Yulianti, S.S., M.A. Beliau menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada UAI sebagai penyelenggara. Beliau menegaskan pentingnya sinergi antara lembaga pendidikan dan mitra internasional dalam memperkuat kualitas pengajaran Bahasa Jepang di Indonesia. “Diharapkan setelah pertemuan ini peserta dapat menerapkannya untuk meningkatkan pembelajaran Bahasa Jepang di tempat masing-masing,” ujar Kaprodi.

Sementara itu, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Dr. Faisal Hendra, Lc., M.A., menyoroti adanya pergeseran peran universitas, yang kini tidak hanya berfokus pada pengajaran, tetapi juga berperan aktif dalam mempersiapkan lulusan agar mampu bersaing di dunia kerja. Beliau juga menyampaikan bahwa acara kolaborasi ini sangat bermanfaat untuk pengembangan mutu mahasiswa Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Jepang.  “Kehadiran kita di sini merupakan langkah positif untuk meningkatkan mutu pembelajaran Bahasa Jepang di Indonesia,” tutup beliau.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua ASPBJI Jabodetabek, Dr. Andi Irma Sarjani, S.S., M.A., menjelaskan bahwa ASPBJI secara rutin menyelenggarakan seminar kolaborasi setiap tahun, dan kegiatan kali ini merupakan yang ke-24. Menurut beliau, tema “Pembelajaran Bahasa Jepang Berbasis Can-Do” diangkat berdasarkan kebutuhan nyata dalam dunia pendidikan Bahasa Jepang saat ini, yang kemudian diimplementasikan secara langsung melalui sesi lokakarya.

Direktur The Japan Foundation Jakarta, Mr. Inami Kazumi, mengapresiasi semangat para peserta yang terus belajar dan berbagi dalam mengembangkan pembelajaran Bahasa Jepang. “Bahasa bukan lagi sekadar pengetahuan, tetapi alat untuk berkomunikasi. Dalam pendidikan Bahasa Jepang, yang penting bukan hanya apa yang diketahui, tetapi apa yang dapat dilakukan dalam bahasa tersebut,” ujarnya.

Sesi Seminar: Kolaborasi Akademik dan Pergeseran Mindset Pembelajaran

Sesi utama menghadirkan Shinohara Aki, M.A., sebagai Keynote Speaker dengan materi “Pembelajaran Bahasa Jepang Berbasis Can-Do”. Beliau mengulas secara rinci mengenai penerapan pembelajaran berbasis Can-Do dalam merancang pembelajaran yang lebih aplikatif dan berorientasi pada kemampuan nyata. Dalam paparannya, beliau menjelaskan mulai dari konsep dasar Can-Do, atau dalam Bahasa Jepang disebut Kadai-Suiko, hingga penerapannya dalam kegiatan belajar mengajar.

Selanjutnya, Julita Fahrul Rochim, M.Pd., M.Sc., bersama Tomoya Furushima, M.A., memaparkan kajian mengenai buku Irodori yang menggunakan pendekatan Can-Do. Keduanya menyoroti adanya pergeseran pola pengajaran Bahasa Jepang dari yang semula berfokus pada struktur kalimat menjadi pembelajaran yang menekankan pada kompetensi komunikatif berbasis tugas.

Vera Yulianti, S.S., M.A., selaku Kaprodi, menyampaikan bahwa pembelajaran Bahasa Jepang di Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Jepang UAI menggunakan buku ajar Marugoto yang mengintegrasikan aspek bahasa dan budaya Jepang. Beliau menjelaskan bahwa buku Marugoto tingkat A hingga B diterapkan secara menyeluruh sebagai bentuk implementasi metode Can-Do dalam proses belajar-mengajar.

Lokakarya dan Penutupan

Pada sesi lokakarya, peserta dibimbing oleh Arianty Visaty, MLA dan Abigail Indriana, M.Hum., untuk menerapkan konsep Can-Do secara langsung. Dari 59 peserta, dibentuk 10 kelompok yang masing-masing menyusun rancangan pembelajaran berbasis Can-Do. Setiap kelompok memilih topik kemampuan bahasa yang berbeda, yaitu Kaiwa (kemampuan percakapan), Supiichi, (pidato), dan Sakubun (kemampuan menulis). Hasil rancangan tersebut kemudian dipresentasikan di hadapan seluruh peserta dan dievaluasi bersama.

Seminar dan Lokakarya Tahunan ASPBJI ke-24 menjadi wadah penting bagi dosen, pengajar, dan praktisi untuk memperkuat kolaborasi dan inovasi dalam pembelajaran Bahasa Jepang. Melalui kegiatan ini, UAI menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pendidikan yang relevan, aplikatif, dan berorientasi pada kompetensi global.

Tertarik mempelajari Bahasa Jepang dengan pendekatan modern seperti Can-Do dan buku ajar Marugoto? Bergabunglah bersama Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Jepang Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI), tempat yang tepat untuk mengasah kemampuan bahasa, memahami budaya, dan menyiapkan karier globalmu. Yuk daftar sekarang di penerimaan.uai.ac.id