skip to Main Content
Sosok Intelektual Bangsa, Prof. Azyumardi Azra

Sosok Intelektual Bangsa, Prof. Azyumardi Azra

Saya mengenal nama Prof. Azyumardi Azra sekitar tahun 1979. Tapi tidak pernah langsung bertatap muka sampai awal tahun 2000. Saat itu saya kenal Almarhum dari tulisan-tulisannya di Majalah Panji Masyarakat. Saya bertanya kepada sahabatnya di IAIN (UIN) Syarif Hidayatullah yang juga sahabat saya, Dr. Pipip A. Hasan (Dosen Universitas Paramadina), saat itu tentu belum Doktor. Dan saya memanggilnya Pipip. Prof. Azyumardi Azra dikenal dengan panggilan Edi. Kata Pipip, memang Edi adalah mahasiswa yang produktif menulis.

Awalnya, kata Pipip, Edi sering duduk mendengarkan diskusi-diskusi mahasiswa atau dosen muda IAIN. Kelebihannya, Edi lalu menuliskan apa yang dibahas saat diskusi. Sehingga, kepiawaiannya menulis sangat luar biasa. Wajar bila tiap hari, akhir-akhir ini Prof. Azyumardi menulis di Kompas dan media lainnya. Buku-bukunya juga luar biasa banyaknya.

Di IPB tahun 1997 saya diminta pimpinan IPB untuk menjadi Sekretaris Tim IPB menjadi Universitas. Saat itu, Prof. Azyumardi Azra sebagai Purek Akademik juga sebagai Ketua Tim IAIN menjadi Universitas. Sepertinya, Prof. Azyumardi Azra tahu bahwa saya di IPB mendapat tugas yang mirip. Dari situ, akhirnya kami berkesempatan untuk beberapa kali diskusi. Bedanya, kalau IAIN kemudian berubah menjadi UIN, adapun IPB tetap Institut.

Suatu waktu, ketika Prof. Azyumardi sudah menjadi Rektor, sekitar tahun 2002, kami bertemu di Bandara Yogyakarta. Kami duduk sambil ngopi. Beliau bilang “Kang Asep, saya dengar gagasan IPB jadi Universitas gagal di Senat ya?”. Saya jawab “Iya nih, Da”. Saya memanggilnya ‘Uda’ dan Beliau memanggil saya ’Akang’. Lalu Prof. Azyumardi sedikit menyayangkan sambil tersenyum bilang “Padahal Kang Asep konsultan saya…hehe”. Kami berdua tertawa.

Beliau bercerita bahwa untuk menjadi universitas, IAIN harus punya Fakultas Kedokteran (FK) serta Fakultas Sains dan Teknologi (FST). Karena katanya, itulah yang membedakan antara institut dan universitas. Apalagi IAIN yang memang kekuatannya di ilmu-ilmu sosial, humaniora dan keagamaan. Jadi, katanya FK dan FST itu suatu keharusan.

Itulah yang Prof. Azyumardi perjuangkan dan Alhamdulillah berhasil. Saat ini, FK memiliki gedung dan laboratorium sendiri yang canggih. Saya yakin bahwa perubahan IAIN Syarif Hidayatullah ke UIN Syarif Hidayatullah adalah salah satu karya monumental Prof. Azyumardi Azra. Luar biasa.

Pada tahun 2007, ketika Prof. Azyumardi mendapat posisi sebagai Deputi di Kantor Wapres, beliau telpon saya. “Kang, mohon siapkan paspor untuk ikut workshop di East-West Center Universitas Hawai”. Saya tentu kaget sambil senang, apalagi temanya tentang Pendidikan Tinggi. Tapi saya sempat bertanya “Mengapa Uda Edi memilih saya”. Jawabannya “Supaya Kang Asep dapat meneruskan kepemimpinan di IPB. Selain tentunya sahabat di HMI sejak awal tahun 80”, jawabnya sambil tertawa.

Kami memang sama-sama aktivis HMI di akhir tahun 1970 dan awal 1980. Memang saat itu di IPB sedang ramai untuk pemilihan Rektor. Ternyata Uda Edi berharap saya jadi Rektor IPB. Saya ikut nyalon, tapi gugur di jalan. Dan saya tidak jadi Rektor IPB. Tetapi tetap saya tidak bisa melupakan kebaikan Prof. Azyumardi yang menginginkan sahabatnya terus berkiprah di dunia pendidikan. Tahun 2009-2010 kami sama-sama menjadi anggota Dewan Juri Dosen Berprestasi Universitas Andalas.

Pertemuan terakhir kami melalui daring dalam acara silaturahmi Dewan Pakar KAHMI tentang sumbangan Alumni HMI untuk negara. Saat itu acara dibuka oleh Ketua Dewan Pakar KAHMI, Prof. Mahfud MD, Menko Polhukam. Saya diminta menjadi Moderator. Adapun narasumbernya adalah Prof. Azyumardi Azra, Prof. Didik J. Rachbini, dan Prof. Siti Zuhro. Para alumni HMI yang luar biasa.

Prof. Azyumardi Azra menekankan pentingnya Islam Wasathiyah yang menjadi khas Indonesia. Banyak negara Timur Tengah yang melirik Islam di Indonesia ini. Indonesia dengan keberagamannya yang luar biasa bisa tetap bersatu dalam bingkai NKRI. Dan di situ peran Islam sangat signifikan.

Beliau berpesan hilangkan kesan Islamophobia di kalangan umat. Bangun kebersamaan dengan perilaku yang baik atau akhlakul karimah menuju rahmatan lil alamin. Demikianlah pesan terakhir yang saya rasakan dari Almarhum Prof. Azyumardi Azra. Suatu pesan yang juga sering saya dengar sejak kami sama-sama aktif di HMI.

Hari Minggu 18 September 2022 Prof. Azyumardi Azra telah dipanggil Allah SWT. Banyak sekali pemikiran dan karya nyata dari Almarhum. Prof. Azyumardi adalah intelektual, pemimpin kampus, serta the man of action.

Almarhum sangat humble. Selalu berbagi ilmu serta menghormati pendapat orang lain. Almarhum sangat dihormati oleh semua kalangan dari berbagai agama dan negara. Satu-satunya cendekiawan Muslim Indonesia yang memperoleh gelar “Sir” dari Kerajaan Inggris. Almarhum adalah intelektual sejati penjaga demokrasi.

Ya Allah tempatkanlah Almarhum di Surga, tempat terbaik disisi Allah SWT. Al Fatihah. Aamiin.
*Asep Saefuddin, Rektor Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) – Guru Besar Statistika FMIPA Institut Pertanian Bogor (IPB)

Sumber

Kumparan

Back To Top