Penguatan pembelajaran bahasa Mandarin di Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) terus dilakukan melalui keterlibatan pengajar asal Tiongkok dalam program Guru relawan Tahun Akademik 2026-2027. Lima guru relawan dari Tiongkok hadir di UAI untuk menjalankan kegiatan pengajaran bahasa Mandarin sekaligus mendukung pembelajaran kebudayaan Tiongkok. Penyambutan berlangsung di Ruang 519 UAI, Jumat, 21 Agustus 2026.
Perwakilan UAI yang hadir dalam kegiatan tersebut yaitu Rektor UAI, Prof. Dr. Widodo Muktiyo; Dewan Pusat Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok (PBMKT) UAI, Akhmad Safik, S.E., M.H., LL.M.; Direktur PBMKT UAI, Feri Ansori, S.S., M.Ed.; serta dosen Program Studi Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok UAI, Sri Hartati, S.S., M.TCSOL. Sementara itu, lima guru relawan yang hadir yaitu Tang Eryuan, Wang Hanke, Zhu Yuting, Pan Siqi, dan Zhu Wenqi, di bawah koordinasi Xuexi selaku pimpinan guru relawan.
Kelima guru relawan akan terlibat dalam kegiatan pembelajaran bersama Program Studi Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok serta Pusat Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok UAI. Selain pembelajaran di kelas, program ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk berinteraksi langsung dengan pengajar asal Tiongkok sehingga dapat memahami penggunaan bahasa dalam konteks kehidupan sehari-hari serta mengenal perspektif budaya masyarakat Tiongkok.
Kehadiran pengajar tersebut juga sejalan dengan meningkatnya kebutuhan akan kemampuan bahasa Mandarin di dunia kerja. Akhmad Safik menyampaikan bahwa bertambahnya perusahaan Tiongkok yang beroperasi di Indonesia turut meningkatkan kebutuhan terhadap sumber daya manusia yang menguasai bahasa Mandarin. Karena itu, pengalaman belajar bersama penutur asli diharapkan dapat membantu mahasiswa memiliki kompetensi yang lebih relevan dengan kebutuhan profesional.
Dalam kesempatan tersebut, kelima guru memperkenalkan diri kepada Rektor dan pimpinan Pusat Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok UAI. Para guru menyambut antusias kesempatan mengajar di UAI dan berharap dapat menjalankan tugas dengan baik selama berada di Indonesia.
Rektor UAI Prof. Dr. Widodo Muktiyo menyambut baik program tersebut. Menurut beliau, kehadiran para guru sukarelawan menjadi bagian dari upaya memperluas interaksi akademik sekaligus membangun pemahaman antar budaya antara Indonesia dan Tiongkok. “Semoga selama berada di Indonesia, para guru relawan dapat memperoleh pengalaman yang menyenangkan dan berkesan, serta mengenal lebih dekat budaya, tradisi, keramahan, dan keberagaman Indonesia,” ujar beliau.
Program pengajaran sukarelawan dari Tiongkok ke UAI memperluas pembelajaran lintas budaya sekaligus memperkuat kerja sama di bidang pendidikan bahasa Mandarin dan kebudayaan Tiongkok.








