Di bawah pendampingan dosen dan mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan Fakultas Sains dan Teknologi serta Program Studi Manajemen UAI, para peserta diperkenalkan dengan penggunaan mesin pengolahan yang dirancang untuk menghasilkan saus secara lebih higienis dan terstandar.
Kegiatan ini menjadi tindak lanjut program pendampingan UAI bersama petani Kampung Cibeureum yang telah dilakukan sejak tahun sebelumnya. Program tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat.
Ketua Pelaksana kegiatan, Nadya Mara Adelina, mengatakan program tahun ini tidak lagi sebatas mengajarkan cara membuat saus sambal, tetapi mulai diarahkan pada peningkatan kualitas produk agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
“Sosialisasi ini merupakan wujud nyata pengabdian kami kepada masyarakat yang didanai oleh DPPM (Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat) Kemdiktisaintek tahun 2026. Seluruh rangkaian kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan dengan para petani Cibeureum Sukanagalih,” ujar Nadya.
Menurutnya, pada tahun sebelumnya UAI telah memberikan pelatihan dan pendampingan pembuatan saus sambal dengan memanfaatkan cabai dan tomat hasil panen petani setempat.
“Tahun ini kami melanjutkan kegiatan dengan melakukan standardisasi terhadap proses pengolahan, teknologi pengemasan untuk memperpanjang umur simpan, kemudian legalitas produk pangan, yaitu saus sambal, sampai dengan media promosi digital,” katanya.
Nadya berharap produk saus sambal yang dihasilkan kelompok tani Cibeureum tidak hanya beredar di lingkungan kampung maupun Desa Sukanagalih.
“Kami berharap produk saus sambal hasil panen petani Cibeureum dapat dipasarkan lebih luas ke wilayah lainnya. Bukan hanya di Kampung Cibeureum atau Desa Sukanagalih, tetapi bisa berkembang hingga ke luar Cianjur,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya konsistensi produksi. Salah satu kendala yang sebelumnya dihadapi kelompok tani adalah belum tersedianya dapur produksi bersama sehingga proses penyimpanan dan produksi masih dilakukan di rumah masing-masing.
Namun, kondisi tersebut mulai mendapatkan solusi setelah pemerintah Desa Sukanagalih memberikan lokasi yang dapat dimanfaatkan sebagai tempat produksi.
“Kami mengapresiasi Kepala Desa Sukanagalih yang telah memberikan satu lokasi untuk produksi. Dengan adanya tempat ini, petani bisa melakukan kegiatan secara lebih konsisten, terutama ketika harga cabai dan tomat sedang turun,” jelas Nadya.
Menurutnya, pengolahan hasil panen menjadi saus sambal dapat menjadi salah satu strategi untuk menghadapi fluktuasi harga komoditas pertanian. Ketika harga cabai dan tomat anjlok, hasil panen tidak harus langsung dijual sebagai bahan mentah, tetapi dapat diolah menjadi produk bernilai tambah.
“Dengan adanya produksi ini, ketika harga cabai dan tomat sedang turun, hasil panen dapat tetap dimanfaatkan dan diolah menjadi produk yang memiliki nilai jual,” tambahnya.
Nadya menjelaskan, sepanjang tahun 2026 sejumlah tahapan pendampingan telah dilakukan, mulai dari survei lokasi, koordinasi pengadaan alat, pendampingan legalitas produk seperti Nomor Induk Berusaha (NIB) dan sertifikasi halal, hingga sosialisasi materi serta pelatihan penggunaan peralatan produksi.
“Jadi kegiatan tahun ini bukan hanya pelatihan membuat saus sambal, tetapi bagaimana produk tersebut bisa memenuhi standar, memiliki kemasan yang baik, mempunyai legalitas, serta dipromosikan melalui media digital sehingga peluang pasarnya semakin luas,” pungkas Nadya.
Sumber : ininewsroom.com