Setiap Muslim perlu senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT serta mengevaluasi kualitas amal ibadahnya. Kesungguhan dalam beribadah perlu disertai kesadaran bahwa amal yang dianggap baik belum tentu terbebas dari kekurangan. Oleh karena itu, setiap Muslim perlu terus memperbaiki diri dan memohon agar amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT.

Kisah Atha’ As-Salami rahimahullah, seorang tabiin yang dikenal sebagai penenun kain, menjadi pengingat tentang pentingnya introspeksi. Setelah berbulan-bulan mengerjakan kain tenun yang dianggapnya telah selesai dengan baik, ia mendapat penilaian dari seorang pedagang bahwa hasil tenunannya masih memiliki banyak kekurangan. Atha’ As-Salami menangis karena menyadari bahwa penilaian terhadap hasil pekerjaannya mengingatkannya pada kemungkinan adanya kekurangan dalam amal ibadahnya di hadapan Allah SWT. Kisah ini mengajak setiap Muslim untuk tidak terburu-buru merasa puas dengan amal yang telah dilakukan.

Peringatan tentang amal yang sia-sia juga terdapat dalam Surah Al-Kahfi ayat 103–105. Allah SWT mengingatkan tentang orang-orang yang mengira telah berbuat sebaik-baiknya, padahal usaha mereka menjadi sia-sia. Ayat tersebut menegaskan bahwa penilaian seseorang terhadap amalnya sendiri tidak selalu mencerminkan nilai amal di hadapan Allah SWT. Karena itu, setiap Muslim perlu mengoreksi niat, memperbaiki pelaksanaan ibadah, dan memastikan amal yang dilakukan sesuai dengan ketentuan agama.

Introspeksi juga perlu diterapkan dalam pelaksanaan salat. Dalam Surah Al-Ma’un ayat 4–5, Allah SWT memperingatkan orang-orang yang lalai dalam salatnya. Kelalaian dalam salat perlu menjadi bahan evaluasi, baik dalam hal ketepatan waktu, pemenuhan rukun dan syarat, maupun kesungguhan dalam menjalankannya. Kebiasaan melaksanakan salat selama bertahun-tahun tidak seharusnya membuat seseorang berhenti mengevaluasi kualitas ibadahnya. Sebaliknya, setiap Muslim perlu memastikan bahwa salat dilaksanakan sesuai dengan tuntunan agama dan penuh kesadaran.

Evaluasi diri juga mencakup perilaku dan tutur kata dalam kehidupan sehari-hari. Setiap Muslim perlu menilai apakah sikapnya terhadap orang lain telah mencerminkan nilai-nilai kebaikan yang diyakininya. Kesadaran akan kekurangan diri hendaknya mendorong perbaikan, bukan membuat seseorang berputus asa dari rahmat Allah SWT. Harapan akan ampunan Allah perlu disertai kesungguhan memperbaiki kekurangan dalam amal dan perilaku.

Kehidupan seorang Muslim perlu berorientasi pada akhirat dengan tetap menjaga keimanan dan kesungguhan dalam beramal. Dalam Surah Al-Isra ayat 19, Allah SWT menjelaskan bahwa orang-orang yang menghendaki kehidupan akhirat, berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meraihnya, dan beriman akan mendapatkan balasan atas usaha mereka. Ayat ini mengingatkan bahwa kesungguhan beramal perlu disertai upaya menjaga kualitas ibadah dan memperbaiki diri. Dengan demikian, introspeksi menjadi bagian penting dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT dan mempersiapkan kehidupan akhirat.

Materi ini disampaikan oleh Prof. Taufik Kasturi, S.Psi., M.Si., Ph.D., Wakil Rektor I Universitas Al-Azhar Indonesia, dalam khutbah Jumat pada 16 Oktober 2026 di Masjid Agung Al Azhar.