Rektor Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI), Prof. Dr. Widodo Muktiyo, menghadiri pelaksanaan Salat Idul Adha 1447 Hijriah yang diselenggarakan di Lapangan Hijau Masjid Agung Al Azhar pada Rabu, 27 Mei 2026. Salat Idul Adha tahun ini dipimpin oleh Dr. H. Agus Nur Qowim, S.Q., M.Pd.I., dengan khotbah yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Muhammad Din Syamsuddin, MA.

Rektor UAI hadir bersama ribuan jemaah yang memadati lapangan masjid, didampingi jajaran pimpinan Yayasan Pesantren Islam (YPI) Al Azhar yang dipimpin oleh Ketua Pembina YPI Al Azhar, Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, S.H., M.H. Turut hadir berbagai tokoh nasional, seperti Dr. H. Muhammad Jusuf Kalla, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia.

Din Syamsuddin selaku khatib mengangkat kehanifan sebagai tema dan pesan utama khutbah Idul Adha 1447 H. Menurutnya, kehanifan adalah sikap konsisten dan konsekuen dalam menjalankan ajaran Islam, tidak goyah ke kanan maupun ke kiri ketika telah meyakini kebenaran. Namun ia menegaskan bahwa kehanifan yang dimaksud bukan kehanifan yang kaku dan tertutup. Rasulullah SAW sendiri mengajarkan bahwa keberagamaan yang paling dicintai Allah adalah yang penuh lapang dada, keterbukaan, dan toleransi.

Pesan kehanifan ini, menurut Din Syamsuddin, sangat relevan di tengah kehidupan global yang semakin tidak menentu. Ia menyoroti bagaimana sekularisme dan liberalisme telah membentuk cara pandang dunia yang bertumpu semata pada kehidupan kini dan di sini, tanpa mempertimbangkan dimensi spiritual dan nilai-nilai agama. Di tengah arus inilah umat Islam dituntut untuk tampil dengan identitas keagamaan yang kuat namun tetap terbuka dan toleran.

Din Syamsuddin juga menyoroti secara kritis kesenjangan antara kuantitas dan kualitas umat Islam di Indonesia. Sebagai umat Islam terbesar di dunia, Indonesia seharusnya memiliki peran yang lebih menentukan dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan politik bangsa. Namun kenyataannya, umat Islam dinilai masih tertinggal dan belum optimal dalam berkontribusi. Khatib mengingatkan bahwa konflik internal akibat perbedaan paham keagamaan maupun kepentingan politik hanya akan memperlemah posisi umat dan mengikis kewibawaan Islam di mata bangsa.

Oleh karena itu, Din Syamsuddin mendorong umat Islam untuk bangkit dan menampilkan peran kebangsaannya secara nyata. “Apapun sukunya, apapun organisasinya, apapun aliran keagamaan, maupun aspirasi politik, kita bersaudara secara keimanan dan secara kemanusiaan,” tegasnya. Umat Islam, menurutnya, harus menjadi kekuatan yang membebaskan dan memajukan Indonesia menuju cita-citanya sebagai bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.

Kehadiran Rektor UAI dalam Salat Idul Adha 1447 Hijriah menjadi bentuk komitmen sivitas akademika UAI sebagai bagian dari keluarga besar YPI Al-Azhar dalam menghidupkan nilai-nilai Islam yang moderat, toleran, dan berdaya di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara.