JAKARTA — Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) menghadiri forum silaturahmi dan diskusi kebangsaan yang diselenggarakan oleh Wakil Ketua MPR RI Dr. H. Edhie Baskoro Yudhoyono, B.Sc., M.Sc. (Ibas) di Ruang Rapat Pimpinan MPR RI, Lantai 9 Gedung Nusantara III DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (26/5/2026). Kegiatan yang mengangkat tema “Merawat Persaudaraan, Menguatkan Kebangsaan, Menjaga Indonesia dengan Ketulusan dan Pengorbanan” tersebut menjadi ajang dialog antara MPR RI dan para pimpinan perguruan tinggi mengenai berbagai isu strategis kebangsaan, pendidikan, dan pembangunan sumber daya manusia Indonesia.

Forum yang diselenggarakan menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah tersebut dihadiri oleh pimpinan perguruan tinggi, tokoh pendidikan, akademisi, dan anggota DPR RI. Dari Universitas Al-Azhar Indonesia hadir Rektor UAI, Prof. Dr. Widodo Muktiyo, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, Kerja Sama dan KeIslaman, Dr. Yusup Hidayat, S.Ag., M.H., serta Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), Dr. Tata Septayuda Purnama, S.S., M.S.I.

Selain UAI, forum tersebut juga dihadiri oleh Prof. Dr. Ma’mun Murod Al-Barbasy, M.Si., Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Prof. Dr. H. Endin Mujahidin, M.Si., Rektor Universitas Ibn Khaldun Bogor (UIKA), serta Prof. Dr. Ali Munhanif, M.A., Wakil Rektor Bidang Akademik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Beberapa pimpinan perguruan tinggi lain juga turut hadir untuk memberikan pandangan mengenai tantangan pendidikan tinggi dan penguatan nilai-nilai kebangsaan di Indonesia.

Turut hadir sejumlah anggota DPR RI dan MPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, antara lain Drs. H. Guntur Sasono, M.Si., Drs. Sabam Sinaga, M.M., anggota DPR RI Komisi X yang membidangi pendidikan, kebudayaan, riset, dan teknologi, serta Bramantyo Suwondo, anggota DPR RI Fraksi Partai Demokrat. Kehadiran para legislator tersebut memberikan perspektif kebijakan dan legislasi yang memperkaya jalannya diskusi.

Dalam sambutannya, Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono menegaskan bahwa nilai-nilai Iduladha tidak hanya mengajarkan ketakwaan dan pengorbanan, tetapi juga semangat kepedulian sosial, persaudaraan, dan kebersamaan yang menjadi fondasi kehidupan berbangsa. Menurutnya, Indonesia memerlukan kontribusi seluruh elemen bangsa, termasuk perguruan tinggi, untuk menjaga persatuan nasional dan membangun masa depan yang lebih baik.

“Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter kebangsaan yang kuat, berintegritas, dan memiliki kepedulian terhadap masa depan bangsa,” ujar Ibas.

Pada kesempatan tersebut, Rektor Universitas Al-Azhar Indonesia, Prof. Dr. Widodo Muktiyo, menegaskan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi dan lembaga negara dalam memperkuat pendidikan karakter serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Menurutnya, tantangan bangsa ke depan membutuhkan kolaborasi yang semakin erat antara dunia pendidikan dan para pengambil kebijakan.

“Pendidikan tinggi harus menjadi ruang yang mampu melahirkan generasi yang unggul, inovatif, dan tetap berakar pada nilai-nilai kebangsaan. Karena itu, sinergi antara kampus dan lembaga negara sangat diperlukan untuk menjawab berbagai tantangan zaman,” ujarnya.

Selama berlangsungnya kegiatan, para peserta terlibat dalam dialog dan diskusi yang membahas berbagai isu strategis di bidang pendidikan, keagamaan, dan kebangsaan. Pembahasan mencakup penguatan moderasi beragama, pembangunan karakter generasi muda, penguatan nilai-nilai Pancasila, tantangan pendidikan tinggi, hingga upaya memperkuat kohesi sosial dan persatuan bangsa di tengah perubahan global yang semakin kompleks.

Salah satu isu yang mendapat perhatian khusus adalah pentingnya pemerataan akses pendidikan tinggi dan distribusi mahasiswa secara lebih berkeadilan. Para peserta menyoroti fenomena konsentrasi mahasiswa baru yang cenderung menumpuk di perguruan tinggi negeri, sementara perguruan tinggi swasta yang juga memiliki peran strategis dalam mencerdaskan kehidupan bangsa sering kali menghadapi tantangan dalam memperoleh jumlah mahasiswa yang proporsional.

Menanggapi persoalan tersebut, Drs. Sabam Sinaga, M.M., anggota DPR RI Komisi X yang membidangi pendidikan, menyampaikan bahwa masukan dari para pimpinan perguruan tinggi tersebut merupakan persoalan yang perlu mendapatkan perhatian serius. Menurutnya, pemerintah perlu terus mencari formulasi kebijakan yang mampu menciptakan keseimbangan dan keadilan dalam sistem pendidikan tinggi nasional sehingga perguruan tinggi negeri dan perguruan tinggi swasta dapat berkembang secara bersama-sama.

Ia menegaskan bahwa perguruan tinggi swasta merupakan mitra strategis pemerintah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena itu, berbagai tantangan yang dihadapi perguruan tinggi swasta, termasuk pemerataan mahasiswa dan peningkatan daya saing institusi, harus menjadi bagian dari agenda pembenahan pendidikan nasional.

Sabam Sinaga juga menyoroti pentingnya menjaga kualitas pendidikan melalui pemenuhan rasio dosen dan mahasiswa yang ideal. Menurutnya, apabila jumlah mahasiswa pada suatu perguruan tinggi terlalu besar dan tidak diimbangi dengan ketersediaan dosen yang memadai, maka kualitas proses pembelajaran berpotensi mengalami penurunan.

“Jika jumlah mahasiswa terus bertambah tetapi rasio dosen dan mahasiswa tidak terpenuhi secara ideal, maka kualitas pembelajaran tentu akan menjadi tantangan. Mahasiswa membutuhkan pendampingan akademik yang memadai, dosen membutuhkan ruang yang cukup untuk membimbing, dan institusi harus mampu menjaga mutu pendidikan. Karena itu, distribusi mahasiswa yang lebih proporsional perlu menjadi perhatian bersama,” ujarnya.

Pernyataan tersebut mendapat respons positif dari para pimpinan perguruan tinggi yang hadir. Mereka berharap adanya kebijakan yang mampu menciptakan ekosistem pendidikan tinggi yang lebih sehat, kompetitif, dan berkeadilan sehingga seluruh perguruan tinggi dapat berkontribusi secara optimal dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia.

Selain persoalan distribusi mahasiswa, forum juga membahas pentingnya pemerataan alokasi anggaran pendidikan, penguatan riset dan inovasi, transformasi digital perguruan tinggi, peningkatan kualitas lulusan, serta peran perguruan tinggi kedinasan dalam menyiapkan sumber daya manusia yang dibutuhkan negara. Para peserta sepakat bahwa pembangunan pendidikan tinggi harus dilakukan secara komprehensif dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan.

Diskusi berlangsung secara dinamis dan konstruktif. Berbagai pandangan dan rekomendasi yang muncul diharapkan dapat menjadi masukan bagi para pembuat kebijakan dalam merumuskan arah pembangunan pendidikan nasional yang lebih inklusif, berkualitas, dan berkelanjutan.

Sebagai penutup kegiatan, Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono menyerahkan secara simbolis hibah buku-buku keagamaan dan kebangsaan kepada seluruh perguruan tinggi yang hadir. Hibah tersebut diberikan sebagai bentuk dukungan MPR RI terhadap penguatan budaya literasi, pengembangan wawasan keagamaan yang moderat, serta penguatan nilai-nilai kebangsaan di lingkungan perguruan tinggi.

Penyerahan hibah dilakukan kepada para pimpinan perguruan tinggi yang hadir, termasuk Universitas Al Azhar Indonesia, Universitas Muhammadiyah Jakarta, Universitas Ibn Khaldun Bogor, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan kampus-kampus lainnya. Koleksi buku yang diberikan diharapkan dapat memperkaya referensi akademik sekaligus mendukung pengembangan kajian keislaman, kebangsaan, dan kemasyarakatan di lingkungan perguruan tinggi.

Melalui forum ini, para peserta sepakat bahwa tantangan bangsa ke depan memerlukan kolaborasi yang semakin erat antara lembaga negara, perguruan tinggi, tokoh agama, dan masyarakat sipil. Penguatan pendidikan, karakter, moderasi, dan wawasan kebangsaan menjadi fondasi penting dalam mewujudkan Indonesia yang maju, berdaya saing, dan tetap kokoh dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.