Pusat Bahasa Mandarin Universitas Al-Azhar Indonesia (PBM UAI) menyelenggarakan rapat bersama Rektor UAI, Prof. Dr. Widodo Muktiyo, di Ruang Rektor pada Rabu, 4 Maret 2026. Pertemuan ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat arah pengembangan serta tata kelola PBM di lingkungan UAI ke depan.

Rapat tersebut membahas laporan studi banding ke Universitas Kristen Maranatha (UKM), penandatanganan dokumen kerja sama terkait perpanjangan program, serta diskusi mengenai rencana tata kelola Pusat Bahasa Mandarin di lingkungan UAI. Kegiatan ini dihadiri oleh Rektor UAI, Prof. Dr. Widodo Muktiyo; Wakil Dekan Fakultas Hukum UAI, Akhmad Safik, S.E., M.H., LL.M.; Direktur Kemitraan dan Kantor Urusan Internasional, Dr. Mohamad Ghozali Moenawar, Lc., M.M.; Direktur PBM UAI pihak Indonesia, Feri Ansori, S.S., M.Ed.; serta Direktur PBM UAI pihak Tiongkok, Wang Daxin.

Arahan Strategis Rektor untuk Penguatan PBM UAI

Rektor UAI, Prof. Dr. Widodo Muktiyo, menyampaikan arahan pentingnya memperkuat peran Pusat Bahasa Mandarin sebagai pusat pengembangan bahasa dan budaya yang mampu menjangkau masyarakat lebih luas. Beliau mendorong optimalisasi pelaksanaan Hanyu Shuiping Kaoshi (HSK) dengan memperluas target peserta hingga tingkat nasional serta meningkatkan visibilitas PBM melalui pengembangan website resmi dan pemanfaatan media sosial. Rektor juga mengingatkan agar setiap kegiatan yang diselenggarakan tetap mengintegrasikan spirit Betawi sebagai identitas khas Universitas Al-Azhar Indonesia, sekaligus terus membuka peluang kerja sama dengan berbagai mitra.

“PBM harus mampu berkembang tidak hanya sebagai pusat pembelajaran bahasa, tetapi juga sebagai ruang kolaborasi yang mempertemukan bahasa, budaya, dan jejaring kerja sama,” ujar beliau.

Studi Banding dan Penguatan Program PBM UAI

Wakil Dekan Fakultas Hukum UAI, Akhmad Safik, S.E., M.H., LL.M, menyampaikan hasil studi banding PBM UAI di Universitas Kristen Maranatha, khususnya terkait pengintegrasian pusat bahasa di lingkungan universitas tersebut. Menurut beliau, terdapat kesamaan karakter antara UKM dan UAI sebagai sesama perguruan tinggi swasta sehingga sejumlah praktik tata kelola yang diterapkan dapat menjadi referensi bagi pengembangan PBM UAI. Pada kesempatan itu juga disampaikan rencana perubahan nama dari PBM menjadi Pusat Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok (PBMKT) sebagai bagian dari penguatan identitas sekaligus perluasan cakupan program.

Pihak PBM UAI turut memaparkan rencana penguatan program utama, termasuk persiapan dan pelaksanaan Hanyu Shuiping Kaoshi (HSK) serta pengembangan berbagai kegiatan pembelajaran bahasa Mandarin yang tengah berjalan. Ke depan, PBM berkomitmen untuk terus memperluas jejaring kerja sama, termasuk penjajakan peluang beasiswa bersama mitra perusahaan, serta mengintegrasikan unsur budaya dalam setiap kegiatan kebahasaan yang diselenggarakan.

Pertemuan ditutup dengan penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) sebagai bentuk komitmen bersama dalam memperkuat kolaborasi dan pengembangan program PBM UAI secara berkelanjutan.