JAKARTA – Program Studi Sarjana Gizi Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) terus menunjukkan langkah progresif dalam menjamin kualitas lulusan yang siap bersaing di kancah nasional. Melalui kolaborasi antara akademisi dan praktisi, Prodi Gizi menyelenggarakan kuliah pakar bertajuk “Kewenangan dan Kode Etik Profesi dalam Praktik Konsultasi Gizi di Rumah Sakit” sebagai bagian dari rangkaian pembekalan intensif mahasiswa menjelang Praktik Kerja Lapangan (PKL) Dietetik.
Kegiatan yang diinisiasi oleh dosen pengampu mata kuliah, Zakia Umami, S.Gz., M.Si. dan Andi Mukramin Yusuf, S.Gz, M.KM., ini menghadirkan Zahrina Tresna Wahidin, seorang praktisi gizi rumah sakit yang berpengalaman dalam asuhan gizi klinis. Inisiatif ini merupakan perwujudan nyata dari kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE) yang mengedepankan sinkronisasi antara teori akademik dengan kebutuhan nyata di Dunia Usaha, Dunia Industri, dan Dunia Kerja (DUDIKA).
Materi utama yang ditekankan dalam sesi ini adalah urgensi Patient Safety. Mahasiswa diberikan pemahaman mendalam mengenai protokol keselamatan gizi, alur identifikasi risiko, hingga standar operasional prosedur (SOP) yang wajib dijalankan oleh seorang tenaga gizi di rumah sakit.
“Keselamatan pasien adalah harga mati dalam praktik klinis. Mahasiswa harus memahami bahwa setiap rekomendasi dietitik yang diberikan memiliki kaitan langsung dengan keselamatan pasien. Kami melatih mereka untuk memiliki tingkat ketelitian zero mistake sejak dini,” ujar Andi Mukramin Yusuf di sela-sela kegiatan.
Melampaui metode kuliah konvensional, Zakia Umami dan narasumber merancang sesi ini dengan pendekatan Student-Centered Learning (SCL). Mahasiswa ditantang untuk terlibat dalam simulasi studi kasus klinis yang kompleks melalui metode roleplay (bermain peran). Dalam simulasi tersebut, mahasiswa dilatih melakukan komunikasi terapeutik yang efektif, cara menghadapi pasien dengan berbagai karakter, hingga teknik koordinasi antar-profesi kesehatan di rumah sakit.
Zakia Umami menambahkan bahwa soft skill komunikasi seringkali menjadi faktor penentu keberhasilan bimbingan konseling gizi. “Melalui roleplay ini, kami ingin mahasiswa tidak hanya mahir menghitung kebutuhan zat gizi, tetapi juga mampu menyampaikannya dengan empati dan profesionalisme yang tinggi kepada pasien,” tuturnya.
Kegiatan ini tidak hanya berdampak pada mahasiswa, tetapi juga menjadi bukti kuat penjaminan mutu internal Prodi Gizi UAI. Kehadiran dosen praktisi ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Prodi dalam meningkatkan rekognisi institusi dan memperluas jejaring kemitraan strategis dengan fasilitas pelayanan kesehatan.
Dengan integrasi materi mutakhir seperti patient safety dan pengasahan soft skill yang terukur, Prodi Gizi UAI optimis dapat melahirkan lulusan ahli gizi yang tidak hanya unggul secara intelektual, namun juga memiliki standar etika dan kepatuhan klinis yang diakui oleh dunia profesi gizi baik nasional maupun internasional.


