Ketakwaan kepada Allah SWT tidak hanya diwujudkan melalui ibadah, tetapi juga tercermin dalam perkataan, perbuatan, dan sikap terhadap sesama. Takwa menjadi bekal bagi setiap Muslim dalam menjalani kehidupan di dunia sekaligus mempersiapkan diri menghadapi kehidupan akhirat. Karena itu, setiap Muslim perlu meningkatkan ketakwaan dengan menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya.
Dalam khutbahnya, Dr. Yusup Hidayat, S.Ag., M.H., Wakil Rektor II Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI), menjelaskan makna takwa dengan merujuk Tafsir Jalalain, yaitu menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya. Takwa bukan sekadar ucapan, melainkan keyakinan dalam hati yang diwujudkan melalui ketaatan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sejalan dengan Surah Al-Baqarah ayat 197 yang menegaskan bahwa sebaik-baik bekal adalah takwa. Harta, jabatan, popularitas, dan kemewahan dunia bersifat sementara, sedangkan iman, amal saleh, dan ketakwaan menjadi bekal untuk kehidupan akhirat.
Salah satu keutamaan takwa adalah memperoleh kemuliaan di sisi Allah SWT. Kemuliaan tidak ditentukan oleh kekayaan, jabatan, keturunan, pendidikan, atau kedudukan sosial, melainkan oleh ketakwaan. Takwa juga menjadi jalan untuk memperoleh pertolongan dan jalan keluar ketika menghadapi kesulitan, sebagaimana dijelaskan dalam Surah At-Talaq ayat 2-3. Menurut Dr. Yusup, pertolongan Allah SWT dapat hadir melalui ketenangan hati, bantuan orang lain, maupun kekuatan dalam menghadapi ujian. Karena itu, setiap Muslim perlu terus berikhtiar, berdoa, bertawakal, dan mencari rezeki dengan cara yang halal.
Keutamaan lainnya adalah memperoleh kemudahan dalam urusan, ampunan atas kesalahan, dan pahala yang besar. Kemudahan tersebut tidak selalu berarti hidup tanpa masalah, tetapi dapat berupa keteguhan menghadapi cobaan dan kemampuan menyelesaikan persoalan dengan cara yang benar. Kesadaran akan luasnya ampunan Allah SWT hendaknya mendorong setiap Muslim untuk memperbaiki diri, menjaga salat dan lisan, menunaikan amanah, meminta maaf kepada orang yang pernah disakiti, serta meninggalkan kebiasaan buruk.
Ketakwaan juga tercermin dalam hubungan dengan sesama. Dalam Surah Ali Imran ayat 133–134, orang-orang bertakwa digambarkan sebagai mereka yang bersegera memohon ampunan dan meraih surga, berinfak dalam keadaan lapang maupun sempit, menahan amarah, serta memaafkan kesalahan orang lain. Nilai-nilai tersebut menunjukkan bahwa takwa tidak hanya berkaitan dengan hubungan manusia dengan Allah SWT, tetapi juga diwujudkan melalui kejujuran, keadilan, kepedulian terhadap sesama, dan tanggung jawab terhadap sesama.
Pada akhirnya, ketakwaan menjadi bekal untuk meraih keselamatan dan kebahagiaan di akhirat. Setiap Muslim perlu mengevaluasi diri: apakah ibadah telah menjadikannya lebih baik, ilmu membuatnya lebih rendah hati, dan harta serta jabatan yang dimiliki telah memberi manfaat bagi orang lain. Keberhasilan hidup tidak semata-mata diukur dari kekayaan atau kedudukan, tetapi juga dari keimanan, rezeki yang halal, kehormatan diri, serta manfaat yang diberikan kepada sesama sebelum kembali kepada Allah SWT.
Materi ini disampaikan oleh Dr. Yusup Hidayat, S.Ag., M.H., Wakil Rektor II Universitas Al-Azhar Indonesia, dalam khutbah Jumat pada 23 Oktober 2026 di Masjid Agung Al Azhar.


