Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Jepang Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) angkatan 2025, Mikail Abi Yusuf, menyampaikan kuliah tujuh menit (kultum) sore bertema Menjaga Arah di Tengah Kesibukan Dunia di Masjid Agung Al-Azhar. Kultum yang berlangsung pada Jumat, 10 April 2026 ini mengajak jamaah untuk tidak kehilangan arah hidup di tengah padatnya aktivitas dan tuntutan dunia modern.
Mikail membuka kultum dengan menyoroti fenomena kesibukan yang kerap dianggap sebagai simbol kesuksesan. Ia menjelaskan bahwa banyak orang terjebak dalam rutinitas yang penuh target dan tuntutan, namun lupa memaknai tujuan dari kehidupan itu sendiri. Menurutnya, kondisi ini ibarat seseorang yang sibuk memperbaiki kendaraan, tetapi tidak mengetahui ke mana arah tujuan perjalanannya.
Menguatkan pesannya, ia mengutip firman Allah dalam QS. Al-Hadid ayat 20 yang menjelaskan bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan, senda gurau, dan perhiasan semata. Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa dunia bukanlah tujuan akhir, melainkan tempat persinggahan sementara bagi manusia.
“Kita sering mengejar dunia seolah-olah akan hidup selamanya, padahal dunia hanyalah halte sementara,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa menjadikan dunia sebagai tujuan utama hanya akan membuat manusia lelah tanpa pernah merasakan kepuasan sejati.
Mikail mengutip hadis Rasulullah SAW. yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, yang mengibaratkan manusia di dunia sebagai seorang asing atau pengembara. Ia menjelaskan bahwa seorang pengembara tidak akan membangun tempat tinggal permanen di tengah perjalanan, melainkan hanya menyiapkan bekal secukupnya untuk mencapai tujuan akhir, yaitu akhirat.
Tidak hanya itu, ia juga menekankan bahwa kesibukan dalam bekerja dan berkarya seharusnya menjadi sarana untuk meraih ridha Allah, bukan justru menjauhkan dari ibadah. Oleh karena itu, Mikail mengajak jamaah untuk secara rutin melakukan evaluasi diri dan meluruskan niat di tengah aktivitas yang padat.
Sebagai penutup, Mikail mengingatkan pentingnya menjaga konsistensi iman dengan senantiasa memohon keteguhan hati kepada Allah, sebagaimana doa yang diajarkan Rasulullah SAW., “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”