Mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI), Moh Harun Ar Rosyid Musa, menyampaikan kuliah tujuh menit (kultum) zuhur bertema Istiqomah Pasca Idulfitri di Masjid Agung Al-Azhar pada Selasa, 14 April 2026. Kultum ini mengajak jamaah untuk menjaga konsistensi ibadah setelah berakhirnya bulan Ramadhan.

Harun membuka kultumnya dengan mengingatkan bahwa Idulfitri bukan sekadar momen perayaan, tetapi menjadi titik awal untuk menjaga konsistensi ibadah yang telah dibangun selama bulan Ramadhan. Ia menekankan bahwa kemenangan sejati terletak pada kemampuan seseorang untuk tetap istiqomah dalam menjalankan kebaikan di tengah aktivitas sehari-hari.

Selama Ramadhan, umat Islam terbiasa meningkatkan ibadah seperti menjaga shalat, memperbanyak tilawah Al-Qur’an, serta menahan diri dari perbuatan yang kurang baik. Namun, Harun mengamati bahwa tidak sedikit orang yang kembali pada kebiasaan lama setelah Ramadhan berlalu.

Harun mengutip firman Allah dalam QS. Fussilat ayat 30 yang menegaskan pentingnya istiqomah setelah beriman. Menurutnya, iman tidak hanya cukup diucapkan, tetapi harus dibuktikan dengan konsistensi dalam amal perbuatan.

“Istiqomah adalah bukti nyata dari keimanan seseorang,” ujar Mahasiswa Psikologi UAI tersebut. Ia menambahkan bahwa salah satu tanda diterimanya ibadah di bulan Ramadhan adalah ketika kebaikan tersebut terus berlanjut setelahnya.

Selama kultum berlangsung, Harun juga menjelaskan bahwa istiqomah tidak harus diwujudkan dalam amalan besar, tetapi justru melalui kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Mengutip hadis Rasulullah SAW., ia menyampaikan bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan terus-menerus meskipun sedikit.

Harun menjabarkan bentuk istiqomah amal ibadah yang sederhana, seperti menjaga shalat tepat waktu, membaca Al-Qur’an setiap hari meskipun hanya beberapa ayat, serta menjaga lisan dan kejujuran dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai penutup, Harun mengajak jamaah untuk menjadikan Ramadhan sebagai madrasah yang membentuk pribadi menjadi lebih baik. Ia mengingatkan agar umat Islam tidak hanya menjadi “hamba Ramadhan”, tetapi tetap menjadi hamba Allah yang taat di bulan-bulan berikutnya.